KEDUDUKAN SANAD DALAM ISLAM

✍🏻 Oleh: al-Ustadz Askari bin Jamal al-Bughisi hafizhahullah

Sanad memiliki peranan yang sangat penting dalam menukilkan wahyu, baik al-Qur’an al-Karim maupun Sunnah Rasulullah ﷺ. Demikian pula menukilkan berita dari kalangan salafus saleh dari para sahabat, tabi’in, dan yang setelahnya. Karena tanpa sanad, satu berita tidak bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah ﷺ dengan sanad akan memberikan beberapa faedah yang sangat agung. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Ilmiah dalam Penukilan

Dengan sanad, seseorang menukil wahyu Allah ‘Azza wajalla dan hadits Rasul-Nya secara otentik sebagaimana asalnya, sehingga memberikan kekuatan hujjah bagi seorang muslim dalam berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan:

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad itu bagian dari agama. Kalaulah tidak ada sanad, orang akan sesukanya mengatakan apa saja yang dia inginkan.” (Diriwayatkan Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya, 1/15)

Yahya bin Sa’id al-Qaththan rahimahullah mengatakan,

“Jangan kalian memerhatikan hadits, namun perhatikanlah sanadnya. Jika sanadnya sahih maka amalkanlah. Namun, jika tidak, jangan engkau tertipu dengan hadits yang sanadnya tidak sahih.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 9/188)

Ishaq bin Rahuyah rahimahullah juga mengatakan,

“Jika Abdullah bin Thahir—seorang amir di Khurasan—bertanya kepadaku tentang satu hadits, lalu aku menyebutnya tanpa sanad, dia bertanya kepadaku tentang sanadnya seraya mengatakan, ‘Meriwayatkan hadits tanpa sanad merupakan perbuatan orang-orang sakit! Sesungguhnya sanad hadits merupakan kemuliaan dari Allah ‘Azza wajalla untuk umat Muhammad ﷺ.” (Fathul Mughits, 3/4)

Karena pentingnya mengetahui sanad sebuah riwayat, para ulama sangat perhatian dalam meriwayatkan hadits-hadits tersebut dengan sanadnya. Termasuk kisah yang menakjubkan dalam hal ini adalah yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far at-Tustari sebagai berikut.

Kami hadir di sisi Abu Zur’ah ar-Razi di Masyahran ketika beliau akan meninggal. Di sisinya ada Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Mundzir bin Syadzan dan sekelompok ulama lainnya. Mereka pun menyebutkan hadits tentang masalah talqin, yaitu sabda Rasulullah ﷺ:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Tuntunlah orang yang akan meninggal di antara kalian untuk mengucapkan La ilaha Illallah.”

Mereka pun merasa malu dan segan kepada Abu Zur’ah untuk menuntunnya. Lalu mereka berkata, “Mari kita sebutkan haditsnya.”

Lalu Muhammad bin Muslim berkata,Adh-Dhahhak bin Makhlad memberitakan kepada kami, dari Abul Hamid bin Ja’far, dari Shalih….” lalu beliau berhenti dan tidak dapat melanjutkan.

Berikutnya, Abu Hatim mengatakan,Bundar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ashim memberitakan kepada kami dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih…” lalu beliau pun tidak dapat melanjutkan.

Adapun yang lain diam. Abu Zur’ah yang dalam keadaan hendak meninggal berkata,Bundar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ashim memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Hamid bin Ja’far memberitakan kepada kami, dari Shalih bin Abu Arib, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir ucapannya La ilaaha Illallah maka dia masuk jannah (surga).” (HR. Abu Dawud no. 3116)

Lalu beliau rahimahullah meninggal. Abu Hatim berkata, “Seketika rumah pun bergemuruh oleh tangisan orang-orang yang hadir.” (Taqdimah al-Jarh wat Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 345)

2. Mencegah Pemalsuan Hadits

Sebagaimana telah dijelaskan, ketika bermunculan hawa nafsu dan bid’ah, semakin merebak pula orang-orang yang mendustakan hadits lalu menyandarkannya kepada Rasulullah ﷺ. Namun, para imam al-jarh wat-ta’dil (kritikan dan pujian terhadap perawi) juga mengerahkan segala kemampuan untuk berusaha melakukan penjernihan syari’at, dengan menyingkap kedok para pemalsu hadits tersebut.

:black_nib: Ibnul Mubarak rahimahullah pernah ditanya,

“Bagaimana kita menyikapi hadits-hadits palsu?” Beliau menjawab, “Para cendekia hadits hidup menghadapinya.” (al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, hlm. 21)

:page_facing_up: Ad-Daruquthni rahimahullah juga berkata,

“Wahai penduduk Baghdad, jangan kalian menyangka bahwa seseorang mampu berdusta atas nama Rasulullah ﷺ sementara saya masih hidup.” (al-Maudhu’at hlm. 21)

:memo: Ibnu Khuzaimah rahimahullah mengatakan,

“Selama Abu Hamid asy-Syarqi rahimahullah (salah seorang murid al-Imam Muslim rahimahullah, red.) masih hidup, tidak ada kesempatan bagi seorang pun untuk berdusta atas nama Rasulullah ﷺ.” (al-Maudhu’at hlm. 21)

Sumber || Majalah Islam Asy-Syari’ah Edisi 061

About

View all posts by