Larangan Mencela Pemerintah, Terkhusus pada Masa Wabah

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Pada artikel yang telah lalu, telah dijelaskan pembahasan tentang wajibnya seorang muslim untuk taat kepada pemerintahnya dalam perkara selain maksiat. Demikian pula telah dipaparkan larangan untuk bermaksiat dan tidak mentaati pemerintah, walaupun pemerintah tidak memenuhi hak kita, bahkan menuntut kita untuk memenuhi hak mereka.

Hal ini (menahan diri dari mencela penguasa) kita lakukan semata-mata dalam rangka ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk kepentingan duniawi, politik praktis, ekonomi, ataupun tendensi yang lain. Murni ikhlas dan meniatkan ini semua untuk ibadah kepada Allah semata. Silakan pembaca kembali mencermati:

Seri 14: Nasihat untuk Bersungguh-Sungguh Menaati Pemerintah pada Masa Wabah

Pada artikel kali ini, akan diterangkan tentang larangan dan haramnya mencela, mengumbar aib, atau menjelekkan pemerintah kaum muslimin. Hal ini penting untuk diingatkan terkhusus pada masa wabah COVID-19. Sebab, banyak kaum muslimin belum memahami dan mengilmui tentang hal ini.

Akhirnya, mencela dan mengkritik penguasa di depan khalayak atau di media umum, menjadi sesuatu yang biasa; bahkan, seolah-olah menjadi sebuah “keharusan” dengan dalih demokrasi atau kebebasan berpendapat.

Padahal, perbuatan tersebut merupakan salah satu dosa besar (sebagaimana nanti akan diterangkan). Sungguh, pada masa-masa wabah COVID-19 seperti ini, seharusnya kaum muslimin banyak bertobat dan beristigfar, seraya menghentikan semua perbuatan maksiat, apalagi dosa besar.

Bagaimana kita berharap kepada Allah subhanahu wa ta’ala supaya wabah penyakit ini diangkat, sementara perbuatan maksiat (bahkan dosa besar) justru banyak dan semakin tersebar?

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita taufik dan hidayah-Nya untuk menilai dan menimbang segala sesuatu dengan ilmiah berdasarkan dalil. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari hawa nafsu yang jelek dan berbagai kepentingan (yang buruk) pribadi atau kelompok.

Tidak Boleh Mencela dan Mengumbar Aib Pemerintah

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mencela, menghina, mengumbar aib, atau menjelekkan pemerintah kaum muslimin hukumnya haram. Pelakunya berhak mendapatkan dosa. Bahkan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengancam, siapa saja yang menghina pemimpinnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menghinakannya. Sebaliknya, barang siapa memuliakan penguasa dengan menolongnya dalam kebaikan, menaatinya dalam hal yang makruf, dan mendoakan kebaikan untuk mereka; Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakannya.

Seorang tabi’in yang bernama Ziyad bin Kusaib al-‘Adawi menceritakan,

“Aku pernah bersama sahabat Abu Bakrah radhiallahu anhu di bawah mimbar Ibnu ‘Amir. Saat berkhotbah, Ibnu ‘Amir mengenakan baju yang tipis. Kemudian, Abu Bilal berkomentar, ‘Lihatlah pemimpin kita! Dia mengenakan baju orang-orang fasik.’

(Mendengar hal tersebut) sahabat Abu Bakrah radhiallahu anhu berkata, ‘Diam! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

“Barang siapa merendahkan pemimpin Allah di bumi, Allah akan menghinakannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2224. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi no. 2224)

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mari kita memperhatikan dan merenungi kisah di atas. Sahabat Abu Bakrah Nufai’ bin al-Harits radhiallahu anhu menasihati dan memperingatkan Abu Bilal yang mencela pakaian yang dikenakan pemimpin ketika itu (yakni Ibnu ‘Amir). Padahal, Abu Bilal hanya mencela pakaian yang dikenakan oleh Ibnu ‘Amir.

Sahabat Abu Bakrah radhiallahu anhu melakukan hal itu bukan karena kepentingan politik praktis, ekonomi, atau kepentingan duniawi lainnya. Beliau melakukan yang demikan, semata-mata karena sabda yang pernah beliau dengar langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Balasan Bagi Para Penghina Pemerintah Kaum Muslimin

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Kita sering membaca atau mendengar di internet ataupun media sosial, orang-orang yang selalu saja mencela pemerintah dalam setiap kebijakannya; termasuk pada masa wabah ini. Apabila pemerintah menetapkan suatu kebijakan (walaupun kebijakan tersebut baik), pasti akan langsung bermunculan komentar-komentar negatif dan celaan. Apalagi jika pemerintah melakukan suatu kesalahan, pasti akan langsung diviralkan dan dibongkar seluruh aib-aibnya.

Apakah seperti ini bimbingan agama Islam? Tentu saja tidak.

Agama Islam justru mengajari para pemeluknya untuk senantiasa taat kepada penguasanya (dalam perkara selain maksiat), menjaga wibawa para pemimpin, tidak mencelanya, mendoakan kebaikan untuk mereka, serta mendukung dan membantu pemerintah dalam perkara yang makruf, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barang siapa memuliakan pemimpin Allah Tabaraka wa Taala di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat kelak. Sebaliknya, barang siapa merendahkan pemimpin Allah Tabaraka wa Ta’ala di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat kelak.” (HR. Ahmad no. 20433 dari sahabat Abu Bakrah radhiallahu anhu. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah as-Shahihah 5/376)

Bentuk perendahan kepada penguasa ada beberapa macam:

  1. Mengolok-olok perintahnya. Contoh, apabila pemimpin memerintahkan sesuatu, dia berkomentar, “Coba lihatlah omongannya (tidak bermutu, pent.)!”
  2. Apabila penguasa menjalankan suatu tugas yang tidak terpublikasi, dia mengatakan, “Coba lihat, apa saja sih yang sudah mereka (pemimpin) kerjakan?”

Tujuan semua itu adalah merendahkan penguasa di hadapan rakyat. Apabila rakyat sudah meremehkan penguasanya, mereka akan ikut merendahkannya. Akhirnya, rakyat tidak lagi menaati perintah penguasa dan melanggar larangannya.

Oleh karena itu, seorang yang merendahkan penguasa, mengumbar aib-aibnya, mencela, menjelek-jelekkan, dan menghinanya; dia terancam akan dihinakan oleh Allah azza wa jalla. Sebab, jika seorang merendahkan penguasa dengan cara-cara yang demikian, akhirnya rakyat akan membangkang kepada penguasanya. Hal ini menjadi sebab terjadinya banyak keburukan dan kekacauan. (Saking buruk efek negatifnya), sebagai balasannya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menghinakan orang yang merendahkan pemerintahnya.

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki, Dia akan menghinakannya langsung di dunia sehingga itulah hukuman yang disegerakan baginya. Akan tetapi, walaupun Allah subhanahu wa ta’ala belum menghukumnya di dunia, dia tetap berhak untuk mendapatkan kerendahan di akhirat kelak—na’udzubillah—. Sebab, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pastilah benar.

Sebaliknya, barang siapa membantu penguasa (dalam hal makruf), Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya karena dia telah membantu dalam kebaikan.

Jika Anda ikut andil menjelaskan kepada masyarakat tentang kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada penguasanya dan membantu rakyat untuk (tetap bersabar) menaati penguasanya dalam hal yang bukan maksiat, hal ini adalah kebaikan yang agung. Namun, dengan syarat bahwa bantuan yang diberikan adalah dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam hal maksiat. (Lihat Syarh Riyadhush Shalihin karya Syaikh Ibnu Utsaimin 1/720)

Menggunjing Penguasa Merupakan Salah Satu Dosa Besar

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Sungguh, mencela, mengumbar aib, atau menjelekkan pemerintah kaum muslimin adalah salah satu dosa besar yang mengakibatkan banyak kemudaratan dan kekacauan.

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,

“Memperbincangkan (keburukan dan aib) penguasa, termasuk bentuk menggunjing dan mengadu domba (sebagaimana penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin di atas, -pent.). Keduanya adalah perbuatan yang sangat diharamkan setelah syirik. Lebih-lebih apabila yang digunjing adalah para ulama dan penguasa, tentu hal itu lebih diharamkan lagi. Sebab, akan timbul darinya sejumlah kerusakan, yaitu tercerai-berainya persatuan dan munculnya sikap buruk sangka dan pesimis pada jiwa-jiwa manusia.” (al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As`ilah al-Manahij al-Jadidah hlm. 66—67)

Nasihat Emas dari Para Sahabat, “Jangan Mencela dan Membenci Penguasa!”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

نَهَانَا كُبَارَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ، قَالُوا: لَا تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَلَا تَغُشُّوهُمْ وَلَا تُبْغِضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

“Para sahabat senior Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melarang kami (mencela penguasa). Mereka berkata, ‘Janganlah mencela pemerintah kalian. Janganlah melakukan tipu daya terhadapnya, jangan pula membencinya. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena sesungguhnya (keputusan) urusan itu sangat dekat’.” (as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, 2/488. Sanad hadits ini dinilai jayyid (bagus) oleh Syaikh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah no.1015)

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Janganlah kekurangan-kekurangan yang ada pada penguasa kita, membuat kita mencela atau membenci mereka. Jika penguasa melakukan sesuatu yang tidak benar, tentu saja kita tidak boleh menyetujuinya. Namun, bukan berarti kemudian kita boleh mencelanya.

Apabila Anda melihat ada kekurangan pada mereka, sampaikan dengan baik dan santun dengan cara diam-diam (empat mata), bukan di muka umum. Silakan cermati pembahasan berikut:

Cara Menasihati Penguasa

Nasihat Bagi Para Pencela Pemerintah Untuk Segera Bertobat

Saudaraku, kaum muslimin rahimukumullah.

Apabila Anda pernah mencela pemerintah, hendaklah segera berhenti lantas bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Takutlah kepada Allah. Janganlah perasaan dan lemahnya hati menjadi sebab Anda terjerumus dalam dosa besar ini.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

سَيَكُونُ بَعْدِي سُلْطَانٌ فَأَعْزِرُوهُ، مَنِ الْتَمَسَ ذُلَّهُ ثَغَرَ ثُغْرَةً فِي الْإِسْلامِ وَلَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ تَوْبَةٌ حَتَّى يُعِيدَهَا كَمَا كَانَتْ

“Akan ada setelahku para penguasa, maka muliakanlah dia! Barang siapa menghinakannya, berarti ia telah membuat satu lubang dalam Islam. Tidak akan diterima tobat darinya sampai ia mengembalikannya seperti sebelumnya.” (as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, 2/513. Hadits ini dinilai shaih oleh Syaikh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah no. 1079)

Nasihat Untuk Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan Salafi Secara Khusus serta Kaum Muslimin Secara Umum

Disadari ataupun tidak, berita dan kabar yang beredar, terkadang—atau bahkan sering—membuat perasaan kita ikut terbawa suasana. Derasnya informasi—terkhusus pada masa wabah COVID-19 ini—membuat hati yang lemah ini ikut terpengaruh. Akhirnya, ketika berbincang di rumah atau berdiskusi dengan teman, bisa jadi lisan ini tak terasa mengucapkan celaan kepada pemerintah.

Ya, benar. Terkadang kita lupa dan terlalaikan dari prinsip Ahlus Sunnah yang agung ini:

Ahlus Sunnah Wal Jamaah, salafi; adalah orang-orang yang memegang teguh prinsip-prinsip di atas. Mereka melakukannya bukan karena kepentingan politik praktis, karena memang salafi tidak ikut terjun dalam politik praktis. Demikian pula bukan karena tendensi ekonomi, apalagi kepentingan pribadi. Mereka memegang erat prinsip tersebut dalam rangka ikhlas beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karena itu, Anda tidak akan mendapati seorang salafi mencela dan menggunjing pemerintahnya, walau sekadar pembicaraan dengan keluarganya. Bahkan, di rumah-rumah pun mereka tetap memegang teguh prinsip ini. Mereka takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka yakin, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Apabila mereka ingin menasihati penguasa, mereka akan melakukannya dengan cara yang benar dan Islami. Prinsip ini, akan senantiasa dipegang erat oleh salafi, sampai kapan pun.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡۖ

“Dan tetaplah istiqamah sebagaimana diperintahkan kepadamu! Dan janganlah Engkau mengikuti hawa nafsu mereka!” (asy-Syura: 15)

Makna firman Allah,

وَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَۖ

“Dan tetaplah istiqamah sebagaimana diperintahkan kepadamu!” ialah tetaplah istiqamah dalam melaksanakan perintah Allah, tidak ifraath (menambah-nambahi) dan tidak tafriith (mengurang-ngurangi). Hendaklah engkau tetap kokoh dan terus-menerus melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Adapun makna firman Allah,

وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡۖ

“Dan janganlah Engkau mengikuti hawa nafsu mereka!”, ialah janganlah engkau menoleh dan terpengaruh dengan orang-orang yang menyelisihi dirimu. (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [16/13] dan Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir al-Kalam al-Mannan hlm. 755)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan petunjuk-Nya untuk meniti jalan yang benar.

Ditulis oleh Ustadz Abu Ismail Arif

Sumber: www.Asysyariah.com

About

View all posts by