APAKAH MAYAT BISA MENDENGAR ORANG YANG MASIH HIDUP?

(Ustadz Abu Hatim Falih حفظه الله)

Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan:

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ المَوْتَى

“Sesungguhnya kamu tidak bisa memperdengarkan suaramu kepada orang-orang mati” (an Naml:80)
Di dalam ayat tersebut Allah menetapkan bahwa orang-orang yang sudah mati tidak bisa mendengar suara orang-orang yang masih hidup.

Dalam ayat yang lain Allah mengatakan:

وما أنت بمسمع من في القبور

“Dan tidaklah kamu sanggup memperdengarkan suaramu kepada orang yang sudah dikubur”. (Fathir:22)

Kedua ayat ini menunjukkan hukum secara umum bahwa orang-orang yang sudah mati tidak bisa mendengar orang yang masih hidup.
Lalu bagaimana dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan orang-orang yang sudah mati mendengar suara orang yang hidup, semisal riwayat bahwa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam berbicara kepada orang-orang musyrikin yang tewas di perang Badr, atau pun riwayat bahwa mayat masih bisa mendengar langkah orang-orang yang mengantarkan dia ke kuburan?

Maka jawabannya bahwa hal itu hanya pengecualian dari keumuman hukum tadi, dan hanya terjadi saat itu saja tidak berlanjut karena beberapa alasan:

  1. Hal itu termasuk perkara gaib yang hanya bisa kita ketahui dengan pengabaran Allah ta’ala di dalam Alquran ataupun hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam sehingga kita tidak bisa menyatakan hal tersebut kecuali ada di dalam Alquran ataupun hadis, adapun bila tidak ada di dalam Alquran ataupun hadis nabi maka tidak boleh kita menyatakannya dengan prasangka dan perkiraan.
  2. Dalam sebuah lafazh tentang kisah perang Badr tersebut Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata:
    إنهم الآن يسمعون ما أقول
    “Sesungguhnya mereka sekarang ini bisa mendengar apa yang aku katakan”. Riwayat al Bukhari.
    Berarti hanya saat itu saja. Ucapan Nabi shalallahu alaihi wasallam inipun juga merupakan jawaban bagi sebagian sahabat yang bertanya kepada beliau: “Apakah engkau mengajak bicara orang-orang yang sudah menjadi bangkai?” Yang menunjukkan bahwa para sahabat memahami dari pengajaran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bahwa orang-orang yang sudah mati tidak bisa mendengar.

Hadits tentang mayat setelah dikuburkan berbunyi:

إِنَّ الْمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ إِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا انْصَرَفُوا

“Sesungguhnya mayat ketika sudah diletakkan di kuburnya, sungguh dia mendengar suara sandal mereka saat kembali.” Riwayat Muslim (2870)
Berarti yang didengar adalah suara sandal dan hanya saat mereka kembali.

JADI, JANGAN BERDOA MEMINTA KEPADA MEREKA UNTUK MENYAMPAIKAN DOAMU KEPADA ALLAH

Bila kita sudah tahu bahwa mayat tidak bisa mendengar orang yang masih hidup, kita tahu bahwa tidak ada faidahnya orang hidup meminta sesuatu kepada orang yang sudah mati karena dia tidak akan bisa mendengar permintaannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَهٗ دَعْوَةُ الْحَقِّۗ وَالَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ لَا يَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُمْ بِشَيْءٍ اِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ اِلَى الْمَاۤءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهٖۗ وَمَا دُعَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ

Hanya bagi Allahlah seruan doa yang hak. (Sesembahan) yang mereka seru selain Dia, tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, kecuali seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya, padahal (air) itu tidak akan sampai ke mulutnya. Tidaklah seruan doa orang-orang kafir itu kecuali dalam kesia-siaan.
(Ar-Ra‘d [13]:14)

Di dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa satu-satunya doa yang benar adalah berdoa hanya kepadaNya, dan Allah menyebut doa kepada selainNya adalah seruan doa orang-orang yang kafir kepadaNya.

Dalam ayat lain Allah mengatakan:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

“Dan Rabb kalian berkata: “berdoalah kalian kepadaKu, niscaya Aku kabulkan bagi kalian, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepadaKu akan masuk ke dalam neraka dengan hina”. (Ghafir:60)

Allah memerintahkan dalam ayat ini untuk berdoa langsung kepadaNya, tidak melalui perantara orang-orang yang sudah mati sekalipun dia adalah seorang Nabi bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sekalipun, karena Allah memerintahkan kepada nabiNya:

قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُ ۛاِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.”
(Al-A‘rāf [7]:188)

Ini saat beliau masih hidup, Allah memerintahkan beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa menentukan manfaat maupun mudharat bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain, apalagi saat beliau sudah wafat? Lalu bagaimana lagi dengan orang-orang yang kedudukannya di sisi Allah jelas di bawah kedudukan beliau shalallahu alaihi wasallam. Kita hanya beribadah kepada Allah semata sebagaimana dalam Al Fatihah:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
(Al-Fātiḥah [1]:5)

Dan doa termasuk ibadah, yang berarti tidak boleh kita menujukan doa kecuali kepada Allah semata. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata:

” الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ، قَالَ رَبُّكُمُ : { ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ } “

((Doa adalah ibadah, Rabb kalian berfirman: “berdoalah kalian kepadaKu niscaya Aku kabulkan bagi kalian,”.)) Riwayat Abu Dawud, at Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

About

View all posts by