,

HALAL KETIKA TERPAKSA (DARURAT)

oleh -88 Dilihat

(Ustadz Abu Hatim Falih حفظه الله)

Beberapa jenis makanan dan minuman diharamkan bagi kaum muslimin, kecuali dalam keadaan darurat terpaksa. Lalu seperti apa kondisi darurat tersebut? Mari kita simak penjelasan Imam asy Syafi’i rahimahullah, dalam kitab (Al Umm) jilid 1 halaman 694 cetakan Dar Ibn Al Jauzi, Kairo Mesir;

ما يحل بالضرورة
Yang Dihalalkan karena Darurat

 

قال الشافعي : قال الله عز وجل فيما حرم : «وما لكم ألا تأكلوا مما ذكر اسم الله عليه وقد فصل لكم ما حرم عليكم إلا ما اضطررتم إليه [الأنعام: 119]،

Asy Syafi’i rahimahullah berkata: Allah azza wa jalla berfirman tentang apa yang Dia haramkan:
“Mengapa kalian tidak mau memakan apa yang sudah disebutkan nama Allah sebelumnya (menyembelih,pent.), padahal Allah sudah merinci bagi kalian apa yang Dia haramkan atas kalian, kecuali apa yang kalian darurat kepadanya.” (al An’am:119)

 

وقال: «إنّما حرم عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير» إلى قوله: «إن الله غفور رحيم ﴾ [البقرة: 173]

، وقال في ذكر ما حرم: «فمن اضطر في مخمصة غير متجانف لإثم فإن الله غفور رحيم﴾ [المائدة: 3]

Allah berfirman: “Sesungguhnya yang Allah haramkan atas kalian hanya bangkai, darah, daging babi..” sampai firmanNya: “sesungguhnya Allah Maha mengampuni Maha menyayangi.” (Al Baqarah: 173)

Allah berfirman ketika menyebutkan apa yang Dia haramkan: “Maka barangsiapa dalam kondisi darurat dalam kelaparan dan tidak menyengaja ingin berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah maha mengampuni Maha menyayangi”. (Al Ma’idah: 3).

 

قال الشافعي : فيحل ما حرم من ميتة ودم ولحم خنزير، وكل ما حرم مما لا يغير العقل من الخمر للمضطر.

Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Maka menjadi halal apa yang diharamkan berupa bangkai, darah, dan daging babi, serta semua yang diharamkan selama tidak mengubah akal berupa khamr, bagi mudhthar (orang yang terpaksa dalam kondisi darurat)”.

والمضطر: الرجل يكون بالموضع، لا طعام فيه معه ولا شيء يسد فورة جوعه، من لبن وما أشبهه،

Orang yang mudhthar terpaksa dalam kondisi darurat adalah orang yang berada di suatu tempat, tak ada makanan dia bawa tidak pula sesuatu yang bisa mengganjal laparnya berupa susu atau yang semisalnya,

 

ويبلغه الجوع ما يخاف منه الموت أو المرض وإن لم يخف الموت، أو يضعفه ويضره أو يعتل أو يكون ماشيا فيضعف عن بلوغ حيث يريد، أو راكبا فيضعف عن ركوب دابته، أو ما في هذا المعنى من الضرر البين،

dimana rasa laparnya sampai membuatnya khawatir mati atau khawatir penyakit walau tidak sampai khawatir mati, atau melemahkannya sehingga tertimpa bahaya, atau menjadi sakit, atau sedang berjalan sehingga tak mampu sampai ke tujuan, atau menaiki tunggangan sehingga tak mampu mengendalikannya, atau yang semakna dengan ini berupa bahaya yang nyata,

 

فأي هذا ناله فله أن يأكل من المحرم، وكذلك يشرب من المحرم غير المسكر، مثل الماء تقع فيه الميتة وما أشبهه. وأحب إلي أن يكون آكله إن أكل، وشاربه إن شرب أو جمعهما، فعلى ما يقطع عنه الخوف ويبلغ به بعض القوة، ولا يبين أن يحرم عليه أن يشبع ويروى، وإن أجزأه دونه؛ لأن التحريم قد زال عنه بالضرورة.

keadaan manapun (dari yang telah disebutkan,pent.) menimpanya maka boleh baginya makan yang haram, boleh pula minum yang haram selain yang memabukkan; misalnya air yang terjatuh padanya bangkai atau yang semisalnya. Lebih aku sukai bila dia makan atau minum atau makan dan minum hanya sekedar hilang kekhawatiran dan terhimpun sedikit kekuatan. Tapi tidak begitu jelas untuk bisa mengatakan haram baginya makan atau minum sampai kenyang, meskipun sudah mencukupinya kadar tidak sampai kenyang, karena pengharaman tersebut sudah hilang dengan sebab kondisi daruratnya.

 

وإذا بلغ الشبع والري فليس له مجاوزته؛ لأن مجاوزته جينئد إلى الضرر أقرب منها إلى النفع.

Bila dia makan dan minum sampai kenyang, maka tidak boleh menambah lagi sebab menambahinya lebih dekat kepada bahaya daripada kepada manfaat.

ومن بلغ إلى الشبع فقد خرج في بلوغه عن حد الضرورة وكذلك الري.

Barangsiapa sudah sampai tingkat kenyang dalam makan dan minumnya maka sudah keluar dari batas hukum darurat.

ولا بأس أن يتزود معه من الميتة ما اضطر إليه، فإذا وجد الغنى عنه طرحه.

Tidak mengapa dia mengambil dari bangkai itu untuk bekal sekedar daruratnya saja, bila kemudian mendapatkan sesuatu sehingga tidak memerlukannya lagi maka dia buang bangkai tersebut.

 

ولو تزود معه ميتة فلقي مضطرا أراد شراءها منه، لم يحل له ثمنها ، إنما حل له منها منع الضرر البين على بدنه لا ثمنها.

Bila saat berbekal dengan bangkai tadi dia kemudian berjumpa dengan orang yang mudhthar juga yang ingin membelinya darinya, maka tidak halal baginya harga bangkai itu, karena sesungguhnya yang halal baginya adalah sekedar mencegah bahaya yang nyata bagi badannya dan bukan harga bangkai tersebut.

 

ولو اضطر، ووجد طعاما ، لم يؤذن له به، لم يكن له أكل الطعام، وكان له أكل الميتة.

Bila saat darurat dia dapati makanan orang lain yang dia belum diizinkan memakannya, maka tidak boleh baginya memakannya, dan boleh baginya makan bangkai.

 

ولو اضطر، ومعه ما يشتري به ما يحل، فإن باعه بثمنه في موضعه أو بثمن ما يتغابن الناس بمثله، لم يكن له أكل الميتة،

Bila saat darurat dia membawa sesuatu yang bisa digunakan untuk membeli makanan yang halal, bila si penjual menjualnya dengan harga modalnya atau secara keumuman harga rugi, maka tidak boleh baginya memakan bangkai.

وإن لم يبعه إلا بما لا يتغابن الناس بمثله، كان له أكل الميتة.

Tapi bila si penjual tidak mau menjualnya kecuali dengan harga yang secara keumuman tidak rugi, maka boleh baginya makan bangkai.

والاختيار أن يغالي به ويدع أكل الميتة.

Hanya saja aku lebih memilih dia membelinya sekalipun dengan harga yang mahal dan dia tinggalkan makan bangkai.

وليس له، بحال، أن يكابر رجلا على طعامه وشرابه وهو يجد ما يغنيه عنه من شراب فيه ميتة أو ميتة.

Dan sama sekali tidak boleh baginya untuk memaksa orang lain memberinya makanan dan minuman dalam kondisi dia memiliki apa yang mencukupinya berupa minuman yang ada bangkainya atau bangkai

وإن اضطر فلم يجد ميتة ولا شرابا فيه ميتة، ومع رجل شيء، كان له أن يكابره، وعلى الرجل أن يعطيه. وإذا كابره، أعطاه ثمنه وافيا،

Bila saat darurat tidak mendapati bangkai atau minuman yang ada bangkainya, dan ada seseorang membawa sesuatu (makanan atau minuman,pent.), maka dia boleh memaksa orang itu dan orang itu harus memberikannya. Bila dia memaksanya, maka setelahnya dia harus membayar penuh harga makanan atau minuman tersebut kepada orang itu,

فإن كان إذا أخذ شيئا خاف مالك المال على نفسه، لم يكن له مكابرته.

Namun bila dengan memaksanya menyebabkan si pemilik barang khawatir terhadap dirinya (kelaparan atau kehausan,pent.), maka dia tidak boleh memaksanya.

وإن اضطر وهو محرم إلى صيد أو ميتة، أكل الميتة وترك الصيد، فإن أكل الصيد فداه، إن كان هو الذي قتله.

Bila saat darurat terpaksa dalam kondisi sedang ihram dihadapkan kepada pilihan untuk makan hewan buruan atau bangkai, maka dia makan bangkai dan tidak makan hewan buruan, bila dia makan hewan buruan maka dia membayar fidyah bila memang dialah yang membunuh hewan buruan tersebut.

وإن اضطر فوجد من يطعمه أو يسقيه، فليس له أن يمتنع من أن يأكل أو يشرب.

Bila saat darurat kemudian dia mendapati orang yang mau memberinya makan atau minum, maka tidak boleh baginya menolak makan dan minum itu.

وإذا وجد فقد ذهبت عنه الضرورة إلا في حال واحدة : أن يخاف إن أطعمه أو سقاه، أن يسمه فيه فيقتله، فله ترك طعامه وشرابه بهذه الحال.

Ketika didapati orang yang mau memberinya makan dan minum, hilang sudah daruratnya kecuali pada satu situasi: saat khawatir orang itu meracuninya di makanan atau minumannya sehingga membunuhnya, maka boleh baginya tidak memakannya atau meminumnya dalam situasi seperti ini.

وإن كان مريضا فوجد مع رجل طعاما أو شرابا يعلمه يضره ويزيد في مرضه، كان له تركه، وأكل الميتة وشرب الماء الذي فيه الميتة.

Bila sakit dan mendapati seseorang yang membawa makanan atau minuman yang dia ketahui makanan dan minuman itu bisa membahayakannya dan menambah sakitnya, maka boleh baginya tidak memakannya atau meminumnya, kemudian makan bangkai dan minum air yang kejatuhan bangkai.

وقد قيل : إن من الضرورة وجها ثانيا، أن يمرض الرجل المرض يقول له أهل العلم به، أو يكون هو من أهل العلم به : قلما يبرأ من كان به مثل هذا إلا أن يأكل كذا، أو يشربه، أو يقال له: إنّ أعجل ما يبرئك أكل كذا أو شرب كذا، فيكون له أكل ذلك وشربه، ما لم يكن خمرا إذا بلغ ذلك منها ما أسكرته، أو شيئا يذهب العقل من المحرمات أو غيرها، فإن إذهاب العقل محرم .

Ada yang berpendapat: sesungguhnya ada keadaan yang kedua bagi darurat, yaitu seseorang menderita penyakit yang ahli penyakit tersebut atau bila dia sendiri termasuk ahli penyakit tersebut menyatakan: “Jarang ada yang sembuh ketika tertimpa penyakit seperti ini kecuali makan ini atau minum ini (dari yang haram,pent.), Atau dikatakan: “Sesungguhnya yang paling cepat untuk kesembuhanmu adalah dengan makan ini atau minum ini” sehingga dibolehkan baginya memakannya atau meminumnya, selama bukan khamr bila kadarnya sampai memabukkan, atau yang selain khamr yang bisa menghilangkan akal dari hal-hal yang diharamkan atau yang lainnya. Karena menghilangkan akal adalah sesuatu yang diharamkan.

ومن قال هذا، قال : «أمر النبي ﷺ الأعراب أن يشربوا ألبان الإبل وأبوالها ، وقد يذهب الوباء بغير ألبانها وأبوالها»، إلا أنه أقرب ما هنالك أن يذهبه عن الأعراب لإصلاحه لأبدانهم، والأبوال كلها محرمة؛ لأنها نجسة.

Bagi yang berpendapat dengan pendapat terakhir ini beralasan: Nabi shalallahu alaihi wasallam memerintahkan orang-orang badui untuk minum susu unta dan kencing unta, padahal wabah penyakit bisa saja hilang tanpa minum susu dan kencing unta, hanya saja itu lebih dekat untuk menghilangkan penyakit tersebut dari orang-orang Badui karena cocok dengan tubuh mereka, padahal kencing-kencing seluruhnya haram karena najis.

وليس له أن يشرب خمرا؛ لأنها تعطش وتجيع؛ ولا لدواء؛ لأنها تذهب بالعقل. وذهاب العقل منع الفرائض، وتؤدي إلى إتيان المحارم، وكذلك ما أذهب العقل غيرها .

Sama sekali tidak boleh baginya minum khamr karena menyebabkan haus dan lapar, tidak boleh pula khamr digunakan sebagai obat karena menyebabkan hilang akal.
Hilangnya akal menyebabkan tidak mengerjakan kewajiban dan menyebabkan menzinai mahram. Demikian pula hukumnya selain khamr yang bisa menghilangkan akal.

ومن خرج مسافرا فأصابته ضرورة بجوع أو عطش، ولم يكن سفره في معصية الله عز وجل، حل له ما حرم عليه مما نصف إن شاء الله تعالى.

Barangsiapa melakukan safar kemudian tertimpa darurat baik lapar maupun haus, dan safarnya bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah azza wa jalla, maka halal baginya apa diharamkan atasnya dari apa yang kami jelaskan insyaallah.

ومن خرج عاصيا لم يحل له شيء مما حرم الله عز وجل عليه بحال؛ لأن الله تبارك وتعالى إنما أحل ما حرم بالضرورة، على شرط أن يكون المضطر غير باغ ولا عاد ولا متجانف لإثم.

Barangsiapa bersafar dalam rangka bermaksiat, maka tidak halal baginya sedikitpun dari apa yang Allah azza wa jalla haramkan atasnya. Karena Allah tabaraka wa ta’ala sesungguhnya menghalalkan apa yang Allah haramkan dalam kondisi darurat, dengan syarat orang mudhthar ini tidak menyengaja mencarinya tidak pula berlebihan dan tidak pula menyengaja untuk melakukan dosa.

ولو خرج عاصيا ثم تاب فأصابته الضرورة بعد التوبة رجوت أن يسعه أكل المحرم وشربه.

Bila bersafar dalam rangka bermaksiat tetapi kemudian bertaubat kemudian tertimpa kondisi darurat setelah bertaubat, aku berharap semoga tidak mengapa baginya makan atau minum yang haram.

ولو خرج غير عاص، ثم نوى المعصية، ثم أصابته الضرورة ونيته المعصية، حسبت ألا يسعه المحرم؛ لأني أنظر إلى نيته في حال الضرورة، لا في حال تقدمتها ولا تأخرت عنها .

Bila bersafar bukan dalam rangka bermaksiat, tetapi kemudian berniat untuk bermaksiat, kemudian tertimpa kondisi darurat dan niatnya bermaksiat, menurutku tidak boleh baginya makan atau minum yang haram, karena aku menilik dari sisi niatnya saat kondisi darurat terjadi, bukan sebelum atau sesudahnya.”

No More Posts Available.

No more pages to load.