RAHASIA MERAIH CINTA ALLAH DAN CINTA MANUSIA

oleh -28 Dilihat
oleh

Pernahkah engkau bertanya, bagaimana cara agar dicintai Allah Ta’ala sekaligus dicintai manusia?

Pertanyaan seperti ini pernah diajukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ. فَقَالَ: ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.

Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya, Allah akan mencintaiku dan manusia pun akan mencintaiku.’

Beliau menjawab, ‘Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.'”

Zuhud adalah meninggalkan perkara-perkara dunia yang berlebihan dan tidak dibutuhkan, serta mencukupkan diri dengan apa yang bermanfaat bagi agama dan kehidupan seseorang. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara mutlak, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

Inilah amalan yang dijanjikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebab diraihnya cinta Allah dan cinta manusia, yaitu bersikap zuhud terhadap dunia serta tidak menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Maksudnya, seseorang tidak menampakkan ketamakan terhadap harta atau kenikmatan yang dimiliki orang lain dan tidak meminta-mintanya. Sebab, pada umumnya manusia mencintai apa yang mereka miliki. Apabila seseorang selalu menginginkan atau meminta apa yang ada pada mereka, hal itu dapat menimbulkan rasa tidak suka, kecuali dalam keadaan yang benar-benar mendesak.

Sumber: Al-Minhatur Rabbaniyyah Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyyah, pembahasan hadis ke-31.