CARA SYAR’I DALAM MENENTUKAN MASUKNYA BULAN RAMADHAN

oleh -1051 Dilihat
oleh

سئل فضيلة الشيخ – رحمه الله تعالى -: ما هي الطريقة الشرعية التي يثبت بها دخول الشهر؟ وهل يجوز اعتماد حساب المراصد الفلكية في ثبوت الشهر وخروجه؟ وهل يجوز للمسلم أن يستعمل ما يسمى (بالدربيل) في رؤية الهلال؟

فأجاب فضيلته بقوله: الطريقة الشرعية لثبوت دخول الشهر أن يتراءى الناس الهلال، وينبغي أن يكون ذلك ممن يوثق به في دينه وفي قوة نظره، فإذا رأوه وجب العمل بمقتضى هذه الرؤية: صوماً إن كان الهلال هلال رمضان، وإفطاراً إن كان الهلال هلال شوال.

ولا يجوز اعتماد حساب المراصد الفلكية إذا لم يكن رؤية، فإن كان هناك رؤية ولو عن طريق المراصد الفلكية فإنها معتبرة، لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: «إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا» . أما الحساب فإنه لا يجوز العمل به، ولا الاعتماد عليه.

وأما استعمال ما يسمى «بالدربيل» وهو المنظار المقرب في رؤية الهلال فلا بأس به، ولكن ليس بواجب، لأن الظاهر من السنة أن الاعتماد على الرؤية المعتادة لا على غيرها. ولكن لو استعمل فرآه من يوثق به فإنه يعمل بهذه الرؤية، وقد كان الناس قديماً يستعملون ذلك لما كانوا يصعدون المنائر في ليلة الثلاثين من شعبان، أو ليلة الثلاثين من رمضان فيتراءونه بواسطة هذا المنظار، وعلى كل حال متى ثبتت رؤيته بأي وسيلة فإنه يجب العمل بمقتضى هذه الرؤية، لعموم قوله صلى الله عليه وسلم: «إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا» .

Syekh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Apa metode syar’i dalam menetapkan masuknya suatu bulan? Dan apakah boleh bersandar pada ilmu hisab (yang biasa disebut dengan) perhitungan observatorium astronomi, dalam menentukan masuk dan keluarnya suatu bulan? Dan apakah boleh seorang muslim menggunakan sebuah alat, yang biasa disebut dengan teropong, dalam melihat hilal? “

Maka beliau pun menjawab: “Metode yang syar’i dalam menetapkan masuknya suatu bulan adalah dengan seorang melihat hilal sabit, dan hendaknya dia termasuk orang yang dipercaya dalam hal agama serta kekuatan pandangannya. Apabila mereka melihatnya maka wajib melakukan apa yang menjadi konsekuensi dari penglihatan (rukyah) tersebut, baik berupa puasa bila hilal tersebut adalah hilal Ramadhan, atau pun berbuka bila hilal tersebut adalah hilal Syawal.

Dan tidak boleh hanya bersandar pada ilmu perhitungan observatorium astronomi bila tanpa disertai rukyah. Adapun bila disertai dengan rukyah walau juga menggunakan perhitungan observatorium astronomi, maka dia dipakai. Berdasarkan keumuman sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam: “Bila kalian melihatnya (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan bila kalian melihatnya (hilal Syawal) maka berbukalah.” Adapun ilmu hisab di atas maka tidak boleh menetapkan dengannya tidak pula bersandar padanya.

Adapun menggunakan alat yang bisa disebut dengan ‘الدربيل’, yaitu teropong alat pembesar objek yang dilihat, dalam melihat hilal maka tidak mengapa, namun tidak wajib. Karena makna yang tampak dalam hadis ialah bersandarkan penglihatan mata biasa, bukan yang lain. Akan tetapi bila alat tersebut digunakan lalu ada orang terpercaya yang melihatnya, maka seorang dapat beramal berdasarkan rukyah tersebut. Dan dahulu manusia mereka menggunakan alat itu di saat mereka menaiki menara-menara di malam tiga puluh Sya’ban atau malam tiga puluh Ramadhan, lalu mereka berusaha melihatnya dengan bantuan teropong tersebut. Dan ketika sudah dinyatakan bahwa hilal terlihat dengan cara apa pun, maka wajib melakukan apa yang menjadi konsekuensi dari rukyah tersebut. Berdasarkan keumuman sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam: “Bila kalian melihatnya (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan bila kalian melihatnya (hilal Syawal) maka berbukalah.” [H.R Bukhari: 1900 & Muslim: 1081]

Sumber: [Fatawa Ibnu Ustaimin Fi Zakati Was Shiyam: 431-432]

Ditulis oleh: Yahya bin Muslim (santri TDNI angkatan ke-2)

No More Posts Available.

No more pages to load.