KEUTAMAAN SIKAP ZUHUD

oleh -1495 Dilihat
oleh

عَنْ أَبي العَباس سَعدِ بنِ سَهلٍ السَّاعِدي رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُول الله: دُلَّني عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمَلتُهُ أَحَبَّني اللهُ، وَأَحبَّني النَاسُ؟ فَقَالَ: (ازهَد في الدُّنيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وازهَد فيمَا عِندَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ) حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسن.

Dari Abul Abbas Sa’d bin Sahl As-Sa’idiy radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Telah datang seseorang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku mengerjakannya, niscaya Allah akan mencintaiku dan orang-orang pun akan mencintaiku?.” Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersikap zuhudlah di dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah pada apa yang dimiliki orang-orang, niscaya orang-orang akan mencintaimu.” Hadis hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selain beliau dengan sanad-sanad yang hasan.

Diantara faedah-faedah yang dapat dipetik dari hadis ini:

1.    Semangatnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum untuk bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang bermanfaat bagi mereka.

2.    Bahwasanya seseorang dengan keadaan tabiatnya itu menyukai jika Allah ta’ala dan orang-orang mencintainya dan dia tidak suka jika Allah ta’ala dan orang-orang membencinya, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan apa yang berkaitan dengan hal tersebut.

3.    Bahwasanya siapa saja yang bersikap zuhud di dunia, niscaya dia akan dicintai oleh Allah ta’ala, karena sesungguhnya bersikap zuhud di dunia itu mengharuskan ar-raghbah (mengharapkan akhirat), dan sungguh makna zuhud adalah: Bahwasanya dia meninggalkan apa yang tak bermanfaat bagi akhirat.

4.    Bahwasanya bersikap zuhud terhadap apa yang dimiliki orang-orang merupakan sebab kecintaan orang-orang kepada engkau.

5.    Bahwasanya bersikap tamak atau serakah di dunia dan bergantung dengannya itu adalah sebab kemurkaan Allah ta’ala kepada seorang hamba dan bahwasanya bersikap tamak pada apa yang dimiliki orang-orang dan berharap kepadanya itu akan mengundang kebencian orang-orang kepada hamba tersebut, dan bersikap zuhud terhadap apa yang ada di tangan-tangan mereka itu adalah sebab terbesar kecintaan mereka.

Sumber: At-Ta’liqat Alal Arbain An-Nawawiyyah karya Asy-Syekh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah, Cetakan Darul Atsar Halaman 105-106.