PERBEDAAN METODE SALAF DAN AHLUL BID’AH DALAM KEIMANAN: WAHYU DAN AKAL

oleh -1004 Dilihat
oleh

Perlu diketahui bahwa salaf dan ahlul bid’ah memiliki banyak perbedaan, baik pada prinsip, keyakinan, hingga metode dakwah. Dan itu semua muncul karena pondasi mereka yang salah dalam memahami dalil-dalil dari al-Quran dan Hadis.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله –

المسألة الأولى: نهج السلف والخلف في إجابة الاعتقاد مختصراً

اعلم – أولاً – أن السلف – رحمهم الله – كانت طريقتهم في جانب أبواب الاعتقاد: أنهم يقبلون كل ما صح فيه الدليل من كتاب وسنة، فهم علما واعتقادا وعملا، يسيرون مع الكتاب والسنة الصحيحة من غير أن يفرقوا بين حديث متواتر أو أحد، فكل ثابت صحيح،وجب التعويل عليه والأخذ به.

وكتب السلف -متقدمهم ومتأخرهم- محشودة بذالك, ولا يخفى ذالك من اطلع عليها فعلى هذه الطريقة اعضض وما سواها فاردد.

وأما طريقة الخلف – غير المرضية سيرتهم – من أهل البدع والأهواء، فعلى خلاف ما عليه أولئك السلف, إذ المرجعة عندهم والحكم هو العقل فكل أمر وافق تلك العقول الموهمة المتحيرة قبلوه, معتمدين على العقل أولا, فإن وافق الشرع استأنسوا به, وكل أمر خالف عقولهم فإما أن يردوه أو يحرفوه وإن كان موافقا للشرع.

فالعمدة عندهم إذا هو العقل أولا و آخرا وأما الشرع فلا يلقون له بالا لا سيما في أبواو الإعتقاد.

[شرح العقيدة الواسطية لمحمد خليل هراس. ص 10]

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,

“Ketahuilah pertama-tama bahwa metode para Salaf semoga Allah merahmati mereka dalam aspek keyakinan adalah menerima segala sesuatu yang telah ditetapkan dengan dalil yang sahih dari Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka, dalam ilmu, keyakinan dan amalan mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, tanpa membeda-bedakan antara hadis mutawatir atau ahad. Setiap dalil yang sahih wajib dijadikan pegangan dan diambil sebagai pedoman. Kitab-kitab Salaf, baik yang ditulis oleh generasi awal maupun generasi akhir, dipenuhi dengan prinsip ini. Siapa pun yang menelaahnya tidak akan kesulitan menemukan hal tersebut. Maka peganglah dengan erat metode ini, serta tolaklah selainnya.

Adapun metode Khalaf yang perjalanan mereka tidak terpuji yakni dari kalangan ahli bid’ah dan hawa nafsu, sangat bertentangan dengan metode para Salaf. Sebab rujukan utama mereka dan landasan hukum mereka adalah akal. Segala hal yang sesuai dengan akal mereka -yang seringkali dipenuhi dengan ilusi dan kebingungan- mereka terima, dengan menjadikan akal sebagai tolok ukur pertama. Jika suatu perkara sejalan dengan syariat, mereka bersedia menerimanya sebagai dukungan, tetapi jika bertentangan dengan akal mereka, mereka akan menolak atau mengubahnya, meskipun itu sesuai dengan syariat. Dengan demikian, landasan utama mereka adalah akal, baik di awal maupun di akhir, sedangkan syariat tidak mereka prioritaskan terlebih dalam bab-bab keyakinan.”

(Sumber: Syarh Aqidah Wasithiyah, Hal. 10)