AKHLAK YANG MULIA DALAM MENYIKAPI KEBODOHAN

oleh -1039 Dilihat
oleh

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita bertemu dengan sikap dan perilaku yang mencerminkan kebodohan, baik berupa ucapan menyakitkan, tindakan kasar, maupun kezaliman. Lalu, bagaimana semestinya seorang yang beriman dan berakhlak mulia merespons hal tersebut?

Allah Ta’ala memberikan petunjuk indah dalam firman-Nya,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

 “Jadilah  pema’af, perintahkanlah kepada yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “Dan karena gangguan dari orang bodoh pasti ada, Allah memerintahkan agar menghadapi mereka dengan cara berpaling dan tidak membalas kebodohan mereka dengan kebodohan pula. Maka:

  • Siapa pun yang menyakitimu dengan ucapan atau tindakan—jangan balas menyakitinya.
  • Siapa pun yang tidak memberimu—jangan balas dengan penolakan.
  • Siapa pun yang memutus hubungan—sambunglah kembali.
  • Siapa pun yang menzalimimu—berlaku adillah terhadapnya”.

Seorang penyair berkata,

إذا نطق السفيه فلا تجبه             فخيرمن إجابته السكوت

   “Jika orang bodoh berbicara, maka janganlah engkau menjawabnya, karena sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.”

Syair ini menggambarkan bahwa kebijaksanaan dalam menghadapi kebodohan adalah dengan diam dan ketenangan

Ini adalah seruan untuk meraih kemuliaan akhlak dan mengatasi kebodohan dengan hikmah, bukan dengan emosi. Sangat dalam dan indah, bukan?!

Menghadapi kebodohan dengan kelembutan bukanlah kelemahan, melainkan cerminan kemuliaan akhlak. Ia menunjukkan kendali diri, kesabaran. Dengan akhlak seperti ini, kita bukan hanya menenangkan jiwa sendiri, tapi juga menjadi cahaya bagi orang lain.

Sumber: Tafsir As Sa’dy