“Islam itu indah”, “Islam itu sempurna” bukanlah sebuah ungkapan kosong nan tidak bermakna, namun Islam ini memang mengajari umatnya pada segala aspek kehidupan dengan sangat mendetail nan terperinci, baik pada hak antar sesama, maupun hak untuk Allah ta’ala. Al‑Quran telah mengingatkan kita dalam Surat An‑Nisa (5:114) bahwa
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْواهُمْ إِلَاّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ ابْتِغاءَ مَرْضاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً (114)
“Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan bisikan rahasia mereka, kecuali orang yang menyeru untuk bersedekah, mendorong kepada kebaikan, atau mengupayakan perdamaian di antara manusia; dan barang siapa yang melakukan semua itu dengan niat mencari keridhaan Allah, niscaya Kami akan memberikan pahala yang besar,”
Al Imam Al- Qurthubi rahimahullah berkata dalam tafsirnya Al Jami’ Li Ahkamil Quran (5/382)
وَالنَّجْوَى: السربين الِاثْنَيْنِ
“Bisikan rahasia (an-najwa) adalah percakapan rahasia antara dua orang.”
Sehingga kita diingatkan agar ruang privat (najwa) kita tidak dipenuhi intrik atau gosip merusak, tetapi menjadi wadah perencanaan kebaikan, baik dalam hal sedekah materi maupun non‑materi, perbuatan ma’ruf yang bermanfaat bagi lingkungan, dan upaya islah untuk mendamaikan pihak yang berseteru seluruhnya dengan motivasi ikhlas semata‑mata karena Allah ta’ala agar setiap langkah kita membawa manfaat sosial dan pahala abadi.
Bahkan bila ditelusuri lebih mendalam bisa jadi seseorang akan terjerumus ke dalam ghibah, maupun namimah yang menjadi dosa besar, bila ruang privatnya (najwa) tidak didasari dengan amal salih dan keinginan untuk mendapatkan rida Allah ta’ala.
Al Jami Lii Ahkaamil Quran


