Salafy Majalengka

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya‘ban. Sesungguhnya beliau berpuasa (hampir) seluruh bulan Sya‘ban.”

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata (pada salah satu rekaman audio beliau),

“Yang disyariatkan di bulan Sya‘ban adalah berpuasa sunnah. Nabi ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya‘ban lebih banyak

Peringatan:

Kebiasaan sebagian orang yang mengkhususkan malam nisfu Sya‘ban dengan sedekah, shalat malam, mengkhususkan siangnya dengan puasa, menampakkan perhiasan, atau amalan-amalan lainnya, semua itu tidak memiliki dasar dalam syariat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Adapun berpuasa pada hari nisfu Sya‘ban secara khusus, maka tidak ada dasarnya.

Ketahuilah, bahwa Al-Qur’an yang mulia dibaca dengan beberapa tujuan:

Untuk dipelajari, maka yang wajib adalah memperbanyak pengulangan dan tidak terlalu banyak bacaan.
Untuk mentadabburi, maka yang wajib adalah membaca dengan tartil, perlahan, serta berhenti pada tempat yang tepat.
Untuk meraih pahala dengan memperbanyak bacaan, maka seseorang boleh membaca sesuai kemampuannya, dan tidak dicela apabila ia ingin membaca dengan lebih cepat.

Dari salah seorang pendengar perempuan dari Riyadh, ia menyamarkan namanya dengan huruf (R. ‘A. S). Saudari kita ini menyebutkan sejumlah hadis dari Rasulullah ﷺ, semuanya tentang keutamaan bulan Rajab dan keutamaan berpuasa di dalamnya. Saya tidak tahu, Yang Mulia Syaikh, apakah saya perlu membacakan apa yang ia tulis, ataukah cukup — semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan — dengan jawaban saja?