: حكمة مشروعية الصيام
للصوم حِكَمٌ وأسرار كثيرة، منها
الصوم سرٌّ بين العبد وخالقه يتمثل فيه عنصر المراقبة الصادقة، فهو يربي في المسلم مراقبة الله وخشيته، فلا يتطرق له الرياء مطلقًا
أنه يعوِّد الأمة على النظام والاتحاد وحب العدل والمساواة، ويكوِّن في المؤمنين عاطفة الرحمة وخلق الإحسان، ويصون المجتمع من الشرور والمفاسد
أن الصيام يجعل المسلم يشعر ويحس بآلام إخوانه، فيدفعه ذلك إلى البذل والإحسان إلى الفقراء والمساكين ويتحقق فيه مبدأ التكامل والتراحم فتعم الرحمة والمحبة والأخوةُ بين المسلمين
الصيام تدريب عملي على ضبط النفس وجهادها، ويؤدي إلى الصبر وتحمل المسؤولية وتحمل المشاق ليكون المسلم بعد الصوم أحسن حالًا وأفضل من حيث زيادة التقوى والعمل والالتزام بأخلاق الإِسلام
Hikmah Disyariatkan Puasa,
Puasa memiliki hikmah dan rahasia yang sangat banyak. Di antanya adalah: puasa merupakan amalan rahasia antara hamba dan penciptanya yang padanya terdapat unsur pengawasan yang jujur (benar-benar merasa diawasi oleh Allah). Puasa mendidik diri seorang muslim untuk selalu merasa diawasi oleh Allah dan takut kepada-Nya, sehingga tidak ada tempat untuk melakukan riya’.
Puasa sebagai sarana untuk memperkuat ukhuwah. Puasa sendiri melatih dan membiasakan ummat untuk berada di atas aturan (disiplin), bersatu, berbuat keadilan dan persamaan dan juga membentuk rasa kasih sayang dan kebaikan dalam hati orang-orang beriman serta menjaga masyarakat dari kejahatan dan kerusakan.
Puasa membuat seorang Muslim merasakan dan memahami penderitaan saudaranya, sehingga mendorongnya untuk berbuat baik dan memberikan sedekah kepada orang-orang miskin dan fakir. Dengan demikian, terwujudlah prinsip saling menyempurnakan dan menyayangi (kebersamaan dan saling membantu) sehingga kasih sayang, kecintaan dan persaudaraan merata di antara orang-orang beriman.
Puasa adalah latihan praktis untuk mengendalikan diri dan berjuang melawan hawa nafsu. Puasa membentuk kesabaran, tanggung jawab, dan kemampuan untuk menghadapi kesulitan. Sehingga, seorang Muslim menjadi lebih baik keadaannya dan lebih utama (taat) setelah menjalankan puasa dari sisi bertambahnya ketaqwaan, amal shalih dan komitmen dengan akhlaq-akhlaq Islam.
Dari sini terpahami bahwa Allah mensyariatkan ibadah puasa demi kebaikan hamba itu sendiri. Agar dirinya terus-menerus di atas kebaikan. Oleh karena itu, sepantasnya seorang muslim bersemangat dalam melakukan apa yang disyariatkan kepadanya.
[Dikutib dari kitab: Fiqh Muyassar Karya Syaikh Abdullah bin Muhammad at Thayyar] Bab: Fadho’ilus Siyam
Ditulis oleh: Ibadurrahman (santri TDNI angkatan ke-2





