TAKATSUR: AKAR KELALAIAN MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM

oleh -578 Dilihat
oleh

فَائِدَة قَوْله تَعَالَى أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ إِلَى آخرهَا أخلصت هَذِه السُّورَة للوعد والْوَعيد والتهديد وَكفى بهَا موعظة لمن عقلهَا فَقَوله تَعَالَى أَلْهَاكُمُ أَي شغلكم على وَجه لَا تعتذرون فِيهِ فَإِن الإلهاء عَن الشَّيْء هُوَ الِاشْتِغَال عَنهُ فَإِن كَانَ بِقصد فَهُوَ مَحل التَّكْلِيف وَإِن كَانَ بِغَيْر قصد كَقَوْلِه فِي الخميصة إِنَّهَا ألهتني آنِفا عَن صَلَاتي كَانَ صَاحبه مَعْذُورًا وَهُوَ نوع من النسْيَان وَفِي الحَدِيث فلهَا عَن الصَّبِي أَي ذهل عَنهُ وَيُقَال لَهَا بالشَّيْء أَي اشْتغل بِهِ وَلها عَنهُ إِذا انْصَرف عَنهُ وَاللَّهْو للقلب واللعب للجوارح وَلِهَذَا يجمع بَينهمَا وَلِهَذَا كَانَ قَوْله أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ أبلغ فِي الذَّم من شغلكم فَإِن الْعَامِل قد يسْتَعْمل جوارحه بِمَا يعْمل وَقَلبه غير لاه بِهِ فاللهو هُوَ ذُهُول وإعراض وَالتَّكَاثُر تفَاعل من الْكَثْرَة أَي مكاثرة بَعْضكُم لبَعض وَأعْرض عَن ذكر المتكاثر بِهِ إِرَادَة لإطلاقه وعمومه وَأَن كل مَا يكاثر بِهِ العَبْد غَيره سوى طَاعَة الله وَرَسُوله وَمَا يعود عَلَيْهِ بنفع معاده فَهُوَ دَاخل فِي هَذَا التكاثر

الفوائد لابن القيم (ص30)

Faedah dari firman Allah ta’ala, “Alhaakumu at-takaathur…” hingga akhir surat:

Surat ini seluruhnya dikhususkan untuk janji, ancaman, dan peringatan. Dan surat ini sudah cukup menjadi nasihat bagi siapa yang memahaminya.

Firman-Nya “أَلْهَاكُمُ” (telah melalaikan kalian) — maknanya adalah, Kalian disibukkan dengan keadaan yang tidak ada udzur di dalamnya.

Sebab, “الإلهاء” (melalaikan) dari sesuatu artinya adalah menyibukkan diri dari sesuatu. Jika kesibukan itu dilakukan dengan sengaja, maka itulah tempat taklif (sesuatu yang harus dipertanggung jawabankan). Namun jika tidak disengaja, seperti sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kain bergaris,

“Sesungguhnya tadi kain itu telah melalaikanku dari salatku”, maka pelakunya dimaafkan, dan itu termasuk jenis lupa.

Dalam hadis juga disebut: “فَلَهَا عَنِ الصَّبِيّ” — maksudnya terlupa dari anaknya.

Dikatakan, “لها بالشيء” artinya sibuk dengannya, dan “لها عنه” artinya berpaling darinya.

“اللَّهْو” adalah untuk hati, sedangkan “اللعب” adalah untuk anggota badan. Oleh karena itu sering kali disebut bersamaan dalam konteks celaan.

Inilah mengapa firman-Nya “أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ” lebih kuat dalam celaan dibandingkan hanya dengan “شغلكم” (telah menyibukkan kalian), sebab orang yang bekerja bisa saja anggota tubuhnya sibuk tetapi hatinya tidak lalai.

Maka “lahw” (kelalaian) adalah bentuk dari lupa dan berpaling, dan “takatsur” adalah bentuk tafa’ul dari katsrah (banyak), artinya saling berbangga dalam memperbanyak sesuatu antara sebagian kalian dengan yang lainnya.

Allah tidak menyebutkan secara langsung apa yang dikompetisikan (dikembangkan banyak-banyakan), sebagai bentuk pengumuman umum, agar mencakup segala hal.

Artinya: Setiap hal yang dijadikan alat berbangga oleh seorang hamba terhadap hamba yang lain selain ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, atau hal yang tidak memberi manfaat bagi kehidupan akhiratnya, maka itu termasuk dalam takatsur yang tercela.

Referensi : Al Fawaid karya Ibnul Qayyim ( hal:30 ).

No More Posts Available.

No more pages to load.