KALA NAFSU MENGUASAI JIWA

oleh -863 Dilihat
oleh

Dalam kehidupan yang penuh godaan dan hiruk-pikuk dunia, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu mudah. Pilihan antara mengikuti seruan hati yang sehat dan jujur atau tunduk pada bisikan hawa nafsu. Di sinilah ujian sebenarnya terjadi saat nafsu mulai menguasai jiwa, akal tertutup, dan hati menjadi buta akan kebenaran.

Allah Ta’ala telah menggambarkan kondisi ini secara jelas dalam firman-Nya,

﴿وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطٗا﴾

“Dan bersabarlah engkau (wahai Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, dengan mengharap wajah-Nya semata. Dan janganlah matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan urusan yang dia jalani selalu tercerai-berai.” (QS. Al-Kahf: 28)

Ayat ini memuat pesan penting tentang kesabaran dalam berada di tengah orang-orang saleh dan peringatan dari mengikuti mereka yang lalai dari zikir dan dikuasai nafsu. Allah menyuruh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentunya juga bagi umat beliau, untuk tetap bersabar bersama orang-orang yang beribadah dan tekun berzikir, yang senantiasa menyebut nama Tuhan mereka pagi dan petang, semata karena mengharap wajah-Nya.

Sebaliknya, Allah melarang kita mengikuti orang-orang yang:

  • telah dilalaikan hatinya dari mengingat Allah,
  • mengikuti hawa nafsunya,
  • dan hidupnya menjadi furuṭan; tercerai-berai, kehilangan arah, nan tidak terkontrol.

Ketika nafsu menguasai jiwa, maka: 1. Zikir dan ibadah menjadi beban, 2. Dunia menjadi tujuan utama, 3. Hati menjadi keras dan lalai, 4. Keputusan dan langkah-langkah hidup seringkali tidak beraturan; semua serba terburu-buru dan tidak stabil. Inilah yang dimaksud dalam kalimat وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا, bahwa hidup orang tersebut tidak memiliki kemantapan, melainkan tercerai-berai dan melampaui batas. Ia tersesat bukan karena kurang ilmu, tapi karena hatinya telah terikat oleh syahwat dan terlepas dari tali zikir.

Ayat ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang lebih memilih gemerlap dunia dan meninggalkan majelis-majelis zikir (ilmu). Ketika kita mulai merasa berat duduk bersama orang-orang yang mengingat Allah, dan lebih memilih lingkungan yang “menghibur hawa nafsu”, maka itu pertanda awal bahwa hati kita sedang dalam bahaya besar.

Maka, mari kita jaga diri dengan menempuh jalan yang telah Allah beritakan di awal ayat tersebut:

  • bersahabatlah dengan orang-orang saleh yang menjaga zikir dan ibadah,
  • jauhi orang-orang yang lalai dari Allah, meskipun mereka populer dan berkedudukan,
  • dan lawan hawa nafsu, sebelum ia menguasai dan mengarahkan kita kepada kehancuran.

Sumber: Al Quranul Karim.