HAKIKAT PUASA

oleh -131 Dilihat
oleh

Asy-Syaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn rahimahullāh berkata:

Adapun perkara yang wajib seseorang berpuasa darinya, mungkin kalian akan merasa heran jika aku mengatakan: Sesungguhnya yang wajib seseorang berpuasa darinya adalah maksiat. Wajib bagi seseorang untuk berpuasa dari perbuatan maksiat, karena inilah tujuan pertama dari puasa, berdasarkan firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Allah tidak mengatakan: “agar kalian merasa lapar”, atau “agar kalian merasa haus”, atau “agar kalian menahan diri dari istri.” Tetapi Allah berfirman: “agar kalian bertakwa.” Inilah tujuan utama dari puasa.

Nabi ﷺ pun merealisasikan dan menegaskan hal tersebut dengan sabda beliau:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, mengamalkannya, dan perbuatan jahil, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makanan dan minumannya.”
(HR. Al-Bukhari, no. 1903)

Maka, seseorang berpuasa dari maksiat kepada Allah — itulah puasa yang hakiki.

(Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, Ibnu ‘Utsaimin)

أما الذي يجب عنه الصوم، فلعلكم تستغربون إذا قلت: إن الذي يجب عنه الصوم هو: المعاصي، يجب أن يصوم الإنسان عن المعاصي، لأن هذا هو المقصود الأول في الصوم لقول الله : ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾ [البقرة:١٨٣] لم يقل: لعلكم تجوعون! أو لعلكم تعطشون! أو لعلكم تمسكون عن الأهل! لا قال: (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)، هذا هو المقصود الأول من الصوم، وحقق النبي ﷺ ذلك وأكده بقوله: (من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه) رواه البخاري، رقم 1903.

 إذًا أن يصوم الإنسان عن معاصي الله ، هذا هو الصوم الحقيقي.

 

لقاء الباب المفتوح ابن عثيمين