HUKUM DAN KEUTAMAAN I’TIKAF

oleh -221 Dilihat
oleh

I’tikaf merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan dalam Islam, terutama pada bulan Ramadhan. Ibadah ini dilakukan dengan menetap di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ serta memfokuskan diri dalam berbagai bentuk ketaatan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله menjelaskan bahwa hukum i’tikaf adalah sunnah. Beliau mengatakan bahwa i’tikaf adalah menetap di masjid dalam rangka taat kepada Allah ﷻ dengan tujuan memusatkan diri pada ibadah. I’tikaf dapat dilakukan pada malam maupun siang hari, baik dalam waktu yang singkat seperti satu jam, satu hari, atau satu malam, maupun dalam beberapa hari dan malam.

Disyariatkannya i’tikaf ditunjukkan dalam firman Allah ﷻ:

﴿وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ﴾

“Dan janganlah kalian mencampuri mereka (istri-istri kalian) sementara kalian sedang beri’tikaf di dalam masjid.”

(QS. Al-Baqarah: 187)

 

Telah sahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Pada sebagian tahun beliau pernah meninggalkannya karena beberapa sebab, lalu beliau beri’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Syawal sebagai gantinya. Maka I’tikaf adalah sunnah, dan melakukannya di bulan Ramadhan lebih utama, terlebih lagi pada sepuluh hari terakhirnya.

 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله, Fatwa tentang i’tikaf, no. soal 17377, situs resmi Ibn Baz.

الاعتكاف سنة، وهو لزوم المسجد لطاعة الله  للتفرغ للعبادة، في الليل أو النهار، ساعة أو يومًا، أو ليلة أو أيامًا أو ليالي، سنة كما قال الله جل وعلا: وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ [البقرة:187].

 

وقد ثبت عن رسول الله عليه الصلاة والسلام أنه اعتكف العشر الأواخر من رمضان، وفي بعض السنوات تركها، لبعض الأسباب، واعتكفها في العشر الأول من شوال، فهو سنة وفي رمضان أفضل، في رمضان وفي العشر الأخيرة أفضل.

السؤال : 17377

No More Posts Available.

No more pages to load.