HAKIKAT SEORANG HAMBA DAN BAHAYA MENGHAMBAKAN DIRI KEPADA HARTA

oleh -22 Dilihat
oleh

Dalam menjalani kehidupan di dunia, Islam tidak hanya mengatur ibadah-ibadah ritual, tetapi juga memberikan perhatian besar terhadap orientasi hati manusia dalam menyikapi harta dan kenikmatan dunia. Banyak orang yang, karena ambisinya mengejar dunia, tanpa sadar menjadikan harta sebagai tujuan utama hidupnya. Akibatnya, kewajiban kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya sering kali terlalaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat keras agar seorang muslim tidak terjerumus menjadi budak dunia. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Celakalah budak dinar, budak dirham, dan budak pakaian (beludru). Jika diberi (harta dunia), ia rida. Namun, jika tidak diberi, ia tidak rida.”

Para ulama menjelaskan bahwa istilah “budak dinar dan dirham” merupakan gambaran bagi seseorang yang hatinya telah dikuasai oleh kecintaan kepada harta. Sungguh rendah kedudukan seseorang apabila ukuran rida dan marahnya tidak lagi didasarkan pada keridaan Allah, melainkan bergantung pada urusan dunia. Hadis ini mengingatkan pentingnya menjaga hati, karena seseorang dapat menjadi hamba harta ketika dunia telah menguasai dirinya, sehingga ia mengikuti segala sesuatu demi memperoleh kenikmatan dunia yang fana.

Dalam syarah hadis ini, para ulama membedakan antara mencari harta yang halal dengan menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Mencari nafkah untuk menopang ketaatan kepada Allah, mencukupi kebutuhan keluarga, atau membantu sesama merupakan amalan yang terpuji. Akan tetapi, apabila hati telah terpaut kepada kemewahan dunia—yang dalam hadis diisyaratkan dengan al-qathifah (kain beludru)—hingga melalaikan hak-hak Allah, maka keadaan inilah yang dicela oleh syariat. Orang seperti itu terancam memperoleh ta’is (kecelakaan dan kehinaan), baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dengan rezeki yang Allah karuniakan, serta rida terhadap ketetapan-Nya. Ketika hati terbebas dari ketergantungan kepada harta dan makhluk, saat itulah seseorang akan merasakan hakikat kecukupan yang sesungguhnya. Sebab, kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari hati yang selalu merasa cukup dengan karunia Allah.

Sumber: Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, pembahasan hadis tentang celaan terhadap budak dinar dan dirham.

No More Posts Available.

No more pages to load.