Sihir dengan berbagai macam bentuk dan metodenya adalah suatu fenomena yang tersebar di kalangan masyarakat, temasuk Indonesia, walaupun kiranya dunia sudah lebih modern dan maju, hal tersebut masih eksis hingga kini.

Lalu apa sebenarnya tanggapan Islam tentang sihir? Apakah itu realita atau hanya sebatas ilusi, banyak orang yang salah faham, sesungguhnya Islam berdiri pertengahan dalam menyikapi sihir, tidak menolaknya sama sekali, tidak pula menetapkan sihir hingga melegalkan prakteknya.

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan kalian sekali-kali mencela angin! Apabila kalian mendapati angin yang kalian tidak sukai, maka ucapkanlah, ‘Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepadamu kebaikan dari angin ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang ia diperintah dengannya. Dan kami berlindung kepadamu dari kejelekan angin ini, kejelekan yang ada didalamnya dan kejelekan yang ia diperintah dengannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Setiap muslim wajib untuk beriman dengan seluruh yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan, baik perkara gaib ataupun lainnya. Di antara berita yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya kabarkan adalah bahwasanya surga dan neraka itu sudah Allah Ta’ala ciptakan sejak dahulu kala, sebelum Allah Ta’ala melakukan penciptaan.

          Al-Imam Abu Ja’far At-Thohawi rahimahullah mengatakan, “Surga dan neraka itu sudah diciptakan, keduanya tidak akan sirna selama-lamanya, dan keduanya juga tidak akan berakhir, dan sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan surga dan neraka sebelum penciptaan…”

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa’. Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam peribadatan kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Sihir secara bahasa adalah sesuatu yang tersembunyi dan memiliki sebab yang halus. Karena itu, dalam hadis disebutkan…