Negeri akhirat merupakan negeri pertanggung jawaban. Masing-masing insan akan dimintai pertanggung jawaban atas amalan yang telah ia kerjakan ketika di dunia. Semuanya akan fokus memikirkan akan kondisi dirinya, tidak ada yang bersantai-santai lebih-lebih mau menolong. Sekalipun dari sanak keluarganya sendiri. Karena memang kondisi kala itu sangat berat lagi menegangkan. Ya, itulah negeri pembalasan dan pertanggungjawaban. Semoga hisab kita semua adalah hisab yang mudah. Aamin.
Tatkala kondisinya seperti itu, tidak ada hal yang paling diharapkan oleh manusia melainkan pertolongan dari Allah Ta’ala. Pertolongan dari Dzat Yang Maha Kuasa. Alhamdulillah di sana ada beberapa amalan yang Allah berikan keistimewaan khusus padanya. Semata-mata hanya dengan izin Allah amalan tersebut dapat menolongnya kelak. Dapat memberikan syafaat untuk siapa saja yang mengamalkannya. Ya, itulah amalan puasa dan tilawah (membaca) Al Qur’an.
As Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menyatakan di dalam kitab nya,
(( ومِنْ فَضائِل الصَّومِ أنَّه يَشْفَع لصاحبه يومَ القيامة. فعَنْ عبدالله بن عَمْرو رضي الله عنهما أنَّ النَّبِي صلى الله عليه وسلّم قال :(( الصِّيامُ والْقُرآنُ يَشْفَعَان للْعبدِ يَوْمَ القِيَامَةِ، يَقُولُ الصيامُ: أي ربِّ مَنَعْتُه الطعامَ والشَّهْوَة فشفِّعْنِي فيه، ويقولُ القرآنُ منعتُه النوم بالليلِ فشَفِّعْنِي فيهِ، قَالَ فَيشْفَعَان ))
“Dan termasuk dari keistimewaan puasa adalah bahwa puasa dapat memberikan syafaat pada hari kiamat bagi siapa saja yang mengamalkannya. Dari sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa dan Al Qur’an keduanya akan memberikan syafaat bagi sang hamba pada hari kiamat.” Puasa berkata, “Wahai Rabbku! Aku telah halangi dia dari makan dan syahwatnya, maka berikan izin padaku untuk memberikan syafaat untuknya.” Al Qur’an juga berkata, “Aku telah halangi dia dari tidur malam, maka berikan izin padaku untuk memberikan syafaat untuknya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka keduanya pun memberikan syafaat.” [1]
Beliau rahimahullah melanjutkan ucapannya,
إخْوانِي: فضائلُ الصوم لا تدركُ حَتَّى يَقُومَ الصائم بآدابه. فاجتهدوا في إتقانِ صيامِكم وحفظِ حدوده، وتوبوا إلى ربكم من تقصيركم في ذلك.
Saudara-saudaraku..! Keutamaan dan keistimewaan puasa tidak dapat diraih sampai seseorang itu melakukan adab-adab yang wajib dan yang sunnah bagi seorang yang sedang berpuasa. Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga puasa kalian dan bertaubatlah kepada Allah atas sikap peremehan kalian padanya.”
اللَّهُمَّ احفظْ صيامَنا واجعلْه شافعاً لَنَا، واغِفْر لَنَا ولوالدينا ولجميع المسلمين، وصلَّى الله وسلّم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.
“Yaa Allah! Jagalah puasa kami dan jadikanlah sebagai pemberi syafaat bagi kami. Ampunilah kami juga kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin! Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad serta para keluarganya dan sahabat-sahabat beliau.”
[Dinukil dari kitab Majalisus Syahri Ramadhan Hal. 17]
[1] [Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahihul Jami’ 7329]
Dituliskan oleh: Abdul Hamid (Santri TDNI angkatan ke-2)



