– قال الشيخ عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله تعلى:
“القاعدة التاسعة عشرة: الأسماء الحسنى في ختم الآيات
يختم الله الآيات بأسماء الله الحسنى ليدل على أن ا لحكم المذكور له تعلق بذلك الاسم الكريم.
وهذه القاعدة لطيفة نافعة، عليك بتتبعها في جميع الآيات المختومة بها، تجدها في غاية المناسبة، وتدلك على أن الشرع والأمر والخلق كله صادر عن أسمائه وصفاته ومرتبط بها.
وهذا باب عظيم في معرفة الله ومعرفة أحكامه، وهو من أجل المعارف وأشرف العلوم.
فتجد آية الرحمة مختومةً بصفات الرحمة، وآيات العقوبة والعذاب مختومة بأسماء العزة والقدرة والحكمة والعلم والقهر….
(مثلا) قال تعالى: {فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [البقرة: 29] فذكرُ إحاطة علمه بعد ذكر خلقه للأرض والسماوات يدل على إحاطة علمه بما فيها من العوالم العظيمة، وأنه حكيم حيث وضعها لعباده، وأحكم صنعها في أحسن خلق وأكمل نظام، وأن خلقه لها من أدلة علمه، كما قال في الآية الأخرى: {أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ} [الملك:14] فخلقه للمخلوقات وتسويتها على ما هي عليه من إنسان وحيوان ونبات وجماد: من أكبر الأدلة العقلية على علمه، فكيف يخلقها وهو لا يعلمها؟…”
“ Kaidah ke-19: Nama-Nama Allah Yang Maha Indah dalam Penutup Ayat
Allah ta’ala menutup ayat-ayat-Nya dengan al asmaul husna untuk menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan memiliki keterkaitan dengan nama yang mulia tersebut.
Kaidah ini adalah kaidah yang teliti dan bermanfaat. Hendaknya kamu memperhatikan hal ini dalam setiap ayat yang diakhiri dengan nama-nama Allah ta’ala, karena kamu akan mendapati adanya kesesuaian yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa seluruh syariat, perintah, dan ciptaan bersumber dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta terikat dengannya.
Ini merupakan salah satu jalan agung dalam mengenal Allah ta’ala dan mengenal hukum-hukum-Nya, dan termasuk ilmu yang paling mulia dan paling berharga.
Maka kamu akan mendapati ayat tentang Rahmat, diakhiri dengan sifat-sifat rahmat, dan ayat-ayat tentang hukuman dan azab, diakhiri dengan nama-nama Allah ta’ala yang menunjukkan keperkasaan, kekuasaan, kebijaksanaan, ilmu, dan kekuasaan mutlak-Nya….
(sebagai contoh) Firman Allah ta’ala,
“Lalu Dia menyempurnakan tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)
Penyebutan keluasan cakupan ilmu-Nya setelah menyebut penciptaan bumi dan langit menunjukkan bahwa ilmu-Nya meliputi segala apa yang ada di dalamnya, dari berbagai makhluk yang besar. Ini juga menunjukkan bahwa Dia Maha Bijaksana, karena telah menjadikan semuanya itu untuk hamba-hamba-Nya dan menyempurnakan ciptaan-Nya dengan sebaik-baik bentuk dan sistem yang paling sempurna.
Dan bahwasanya penciptaan langit dan bumi adalah salah satu bukti dari ilmu-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam ayat lain:
“Apakah (Allah) yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang diciptakan-Nya)? Dan Dia-lah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)
Maka penciptaan makhluk dan penyempurnaan bentuknya—sebagaimana adanya manusia, hewan, tumbuhan, maupun benda mati—merupakan salah satu bukti akal terbesar atas keluasan ilmu-Nya. Bagaimana mungkin Dia menciptakan semua itu tanpa mengetahuinya?
Al-Qawaa’idul Hisan, Hal:53





