Ketahuilah, bahwa Al-Qur’an yang mulia dibaca dengan beberapa tujuan:

Untuk dipelajari, maka yang wajib adalah memperbanyak pengulangan dan tidak terlalu banyak bacaan.
Untuk mentadabburi, maka yang wajib adalah membaca dengan tartil, perlahan, serta berhenti pada tempat yang tepat.
Untuk meraih pahala dengan memperbanyak bacaan, maka seseorang boleh membaca sesuai kemampuannya, dan tidak dicela apabila ia ingin membaca dengan lebih cepat.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya; dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, maka tetapkanlah dengan adil. Sungguh, Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memberitakan bahwa Dia memerintahkan untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hasan dari Samurah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu.” (HR. Ahmad dan para penulis Sunan)

Dalam kehidupan yang penuh godaan dan hiruk-pikuk dunia, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu mudah. Pilihan antara mengikuti seruan hati yang sehat dan jujur atau tunduk pada bisikan hawa nafsu. Di sinilah ujian sebenarnya terjadi saat nafsu mulai menguasai jiwa, akal tertutup, dan hati menjadi buta akan kebenaran.

Allah Ta’ala telah menggambarkan kondisi ini secara jelas dalam firman-Nya,

﴿وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطٗ

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.