وصية النبي صلى الله عليه وسلم بالسمع والطاعة لولاة الأمور.
والسمع والطاعة لهم واجب بالكتاب والسنة، قال الله تعالى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ) (النساء: الآية59) فجعل طاعة أولي الأمر في المرتبة الثالثة ولكنه لم يأت بالفعل (أطيعوا) لأن طاعة ولاة الأمور تابعة لطاعة الله تعالى ورسوله صلى الله عليه وسلم، ولهذا لو أمر ولاة الأمور بمعصية الله عز وجل فلا سمع ولا طاعة.
وظاهر الحديث وجوب السمع والطاعة لولي الأمر وإن كان يعصي الله عز وجل إذا لم يأمرك بمعصية الله عز وجل، لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “اسمَع وَأَطِع وَإِن ضَرَبَ ظَهرَكَ وَأَخَذَ مَالَكَ” وضرب الظهر وأخذ المال بلا سبب شرعي معصية لا شك، فلا يقول الإنسان لولي الأمر: أنا لا أطيعك حتى تطيع ربك، فهذا حرام، بل يجب أن يطيعه وإن لم يطع ربه.
أما لو أمر بالمعصية فلا سمع ولا طاعة، لأن رب ولي الأمر ورب الرعية واحد عز وجل، فكلهم يجب أن يخضعوا له عز وجل، فإذا أمرنا بمعصية الله قلنا: لا سمع ولا طاعة.
Nasihat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam Untuk Mendengar Dan Menaati Pemimpin.
Mendengar serta menaati pemimpin adalah sebuah kewajiban berdasarkan Al-Quran dan As Sunah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. An-Nisa: Ayat 59)
Dalam ayat ini, ketaatan kepada Ulil Amri (pemegang kekuasaan) ditempatkan pada urutan ketiga. Namun, Allah tidak mengulang kata kerja “taatilah” (أطيعوا) sebelum menyebut Ulil Amri, karena ketaatan kepada pemegang kekuasaan adalah mengikuti ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, jika pemegang kekuasaan memerintahkan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar dan menaati.
Teks hadis menunjukkan kewajiban mendengar dan menaati Ulil Amri walaupun mereka bermaksiat kepada Allah Ta’ala, asalkan mereka tidak memerintahkanmu untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dengarkan dan taatilah, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil.” Memukul punggung dan mengambil harta tanpa sebab syar’i (sesuai hukum Islam) jelas merupakan sebuah kemaksiatan.
Maka, seseorang tidak boleh mengatakan kepada pemimpin, “Saya tidak akan menaatimu sampai kamu menaati Tuhanmu.” Hal ini haram. Sebaliknya, wajib baginya untuk menaati pemimpin meskipun pemimpin itu tidak menaati Tuhannya.
Namun, jika pemimpin memerintahkan perbuatan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar dan menaati. Ini karena Tuhannya pemimpin dan Tuhannya rakyat adalah sama, yaitu Allah Ta’ala yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Oleh karena itu, semua wajib tunduk kepada-Nya azza wa jalla. Jadi, jika kita diperintahkan untuk bermaksiat kepada Allah, kita katakan: “Tidak ada ketaatan dan tidak ada kepatuhan.”
Sumber: Syarh Al Arbain An Nawawiyyah Li Asy Syaikh Al Utsaimin hal.279






