MALU: MAHKOTA IMAN YANG TERLUPA

oleh -447 Dilihat
oleh

«فتح الباري لابن رجب» (1/ 102):

ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر على رجل وهو يعظ أخاه في الحياء فقال : ” دعه؛ فإن الحياء من الإيمان “.

هذا المعنى مروي عن النبي صلى الله عليه وسلم من وجوه كثيرة، وقد سبق حديث أبي هريرة: ” الحياء شعبة من الإيمان ” . والحياء نوعان:

أحدهما: غريزي، وهو خلق يمنحه الله العبد ويجبله عليه فيكفه عن ارتكاب القبائح والرزائل، ويحثه على فعل الجميل وهو من أعلى مواهب الله للعبد، فهذا من الإيمان باعتبار أنه يؤثر ما يؤثره الإيمان من فعل الجميل والكف عن القبيح، وربما ارتقى صاحبه بعده إلى درجة الإيمان ’ فهو وسيلة إليه كما قال عمر: من استحيى اختفى، ومن اختفى اتقى ومن اتقى وقي.

وقال بعض التابعين تركت الذنوب حياء أربعين سنة، ثم أدركني الورع. وقال ابن سمعون : رأيت المعاصي نذالة؛ فتركتها مروءة فاستحالت ديانة .

والنوع الثاني: أن يكون مكتسبا، إما من مقام الإيمان كحياء العبد من مقامه بين يدي الله يوم القيامة فيوجب له ذلك الاستعداد للقائه، أو من مقام الإحسان، كحياء العبد من اطلاع الله عليه وقربه منه، فهذا من أعلى خصال الإيمان.

 

Fath Al-Baari karya Ibn Rajab rahimahullah (1/102) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang lelaki yang dia sedang menasihati saudaranya tentang sifat malu, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Biarkanlah dia, karena malu itu bagian dari iman.”

Makna ini diriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melalui banyak jalur. Telah disebut sebelumnya hadis Abu Hurairah, “Malu itu adalah cabang dari iman.”

Malu itu ada dua macam:

Pertama:
Malu yang bersifat fitrah (alami), yaitu sifat yang Allah ta’ala anugerahkan kepada seorang hamba dan Allah ta’ala menjadikannya sebagai bagian dari tabiatnya, sehingga sifat ini menahannya dari melakukan keburukan dan perbuatan tercela, serta mendorongnya untuk berbuat baik. Sifat ini termasuk karunia Allah ta’ala yang paling tinggi kepada seorang hamba.

Sifat malu seperti ini termasuk bagian dari iman, karena ia melahirkan akibat sebagaimana yang dihasilkan oleh iman: yaitu berbuat baik dan menahan diri dari keburukan. Bahkan, pemilik sifat malu seperti ini bisa jadi akan naik derajatnya hingga mencapai tingkat iman, karena sifat malu menjadi jalan menuju iman. Seperti dikatakan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu, “Siapa yang merasa malu, ia akan menutup diri. Siapa yang menutup diri, ia akan menjaga diri. Siapa yang menjaga diri, ia akan terjaga.”

Dan salah seorang tabi’in berkata, “Aku meninggalkan dosa-dosa karena malu selama empat puluh tahun, kemudian aku baru merasakan sifat wara‘ (hati-hati).”

Ibnu Sam‘un berkata, “Aku melihat bahwa maksiat itu hina, maka aku meninggalkannya dengan niat menjaga kehormatan diri, kemudian (niat itu) berubah menjadi niat menjalankan agama.”

Kedua:
Malu yang diperoleh (bukan alami), yaitu didapat melalui usaha, entah karena kedudukan iman — seperti rasa malu seorang hamba akan kedudukannya di hadapan Allah ta’ala pada hari kiamat, sehingga mendorongnya untuk mempersiapkan diri menyongsong perjumpaan dengan-Nya; atau karena kedudukan ihsan — seperti rasa malu seorang hamba karena Allah melihat dan dekat dengannya. Malu jenis ini termasuk salah satu sifat iman yang paling mulia.

 

Sumber: Fathul Bariyy juz 1 halaman 102-103

No More Posts Available.

No more pages to load.