Kita sebagai manusia tentu memiliki tujuan hidup di dunia yang fana ini, tidak mungkin Allah Ta’ala menciptakan manusia begitu saja, tanpa adanya tujuan. Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56
(وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ)
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah hanya kepada-Ku.”
Allah Ta’ala pun berfirman dalam surat Al-Mu’minun ayat 115
(أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ)
“Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian itu sia-sia begitu saja, dan mengira kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?!”
Ayat di atas menunjukkan bahwasanya manusia itu memiiliki tujuan hidup di dunia ini, yakni: beribadah hanya kepada Allah Ta’ala semata, tidak ada sekutu bagi-Nya sesuatu apapun.
Tauhid, itulah inti dari semua peribadahan kepada Allah Ta’ala, dengan mengucapkan kalimat
لا إله إلاّ الله) ) yakni: Tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah Ta’ala, dan merealisasikan kalimat tersebut dengan menaati perintah Allah Ta’ala dan menjauhi semua larangan-Nya.
Perlu diketahui bahwa kalimat tauhid ini memiliki rukun yang harus ada pada seseorang yang beriman, yaitu: Menafikan semua peribadahan kepada selain Allah Ta’ala dan menetapkan peribadahan hanya untuk Allah Ta’ala. Demikian pula kalimat tauhid ini memiliki syarat yang jikalau syarat tersebut tidak ada, maka tidak bermanfaat keimanan yang ada pada diri seseorang. Syarat tersebut ialah sebagaimana As-syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang syarat kalimat tauhid لا إله إلّا الله, beliau berkata, “Adapun syaratnya ialah, harus bersandar dengan keyakinan dan ilmu, keyakinan yang tidak ada keraguan sedikitpun padanya, pengetahuan ilmu yang tidak ada ketidaktahuan padanya (kebodohan). Begitu pula harus ada syarat agar terus berlanjut di atas keyakinan dan ilmu, syarat tersebut yakni: amalan yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Adapun hanya sekedar ucapan dengan lisan tanpa adanya keyakinan, maka keimanan tersebut tidak bermanfaat sedikitpun.
Sumber: Fataawa Ibnu ‘Utsaimin, jilid 1-2, hal.148, bab Syahadatain





