ولكن سنناقش هذا التعبير «سَتْرُ العَوْرَة». هل جاء في الكتاب أو السُّنَّة كلمة «سَتْرُ العَوْرَة» فيما يتعلَّق بالصَّلاة أم لا؟. الجواب: لا، لم تأتِ كلمة «سَتْرُ العَوْرَة» في الكتاب أو السُّنَّة، ومن أجل أنَّه لم تأتِ ينبغي أن لا نعبِّر إلا بما جاء في القرآن والسُّنَّة في مثل هذا الباب. فلوعَبَّرَ بما في القرآن أو السُّنَّة لكان أسلم، والذي جاء في القرآن: {يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ} [الأعراف: 31]. فأمر الله تعالى بأخذ الزِّينة عند الصَّلاة، وأقلُّ ما يمكن لباس يُواري السَّوأة، وما زاد على ذلك فهو فَضْل، والسُّنة بيَّنت ذلك على سبيل التفصيل, ولهذا قال عبد الله بن عمر لمولاه نافع وقد رآه يصلِّي »حاسرَ الرَّأس: «غَطِّ رأسك، هل تخرج إلى النَّاس وأنت حاسر الرَّأس؟ قال: لا. قال: فاللَّهُ أحقُّ أن تتجمَّلَ له»
إذاً؛ فاتِّخاذُ الزِّينة غير سَتْر العَوْرَة، ونقول: قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم: «لا يُصَلِّيَنَّ أحدُكُمْ في الثَّوبِ الواحدِ ليس على عاتِقِهِ منه شيءٌ» (2)، وعاتق الرَّجُلِ ليس بعورة بالاتفاق، ومع ذلك أمر النبيُّ عليه الصلاة والسلام بستره في الصَّلاةِ فقال: «ليس على عاتقه منه شيء»، إذاً؛ فليس مَنَاط الحُكم سَتْر العَورة، إنما مَنَاط الحُكم اتِّخاذ الزِّينة، هذا هو الذي أمرَ الله به، ودلَّت عليه السُّنَّة.»
Namun, mari kita tinjau ungkapan “menutup aurat (satr al-‘aurah)”. Apakah ungkapan ini disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an atau Sunnah dalam konteks shalat atau tidak? Jawabannya, “Tidak. Ungkapan ‘menutup aurat’ tidak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Oleh karena itu, sepatutnya kita tidak menggunakan istilah-istilah kecuali yang datang dari Al-Qur’an dan Sunnah, khususnya dalam perkara-perkara seperti ini.
Seandainya seseorang mengungkapkan dengan lafaz yang berasal dari Al-Qur’an atau Sunnah, tentu itu lebih selamat. Adapun yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah firman Allah (yang artinya),
“Wahai anak-anak Adam, kenakanlah pakaian kalian yang indah (zinah) di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A‘raf: 31)
Allah Ta‘ala memerintahkan untuk memakai pakaian yang indah (layak) ketika melaksanakan shalat. Minimalnya adalah pakaian yang menutupi bagian-bagian tubuh yang memalukan (saw’ah). Sedangkan yang lebih dari itu adalah suatu keutamaan (fadhilah). Sunah telah menjelaskan perintah ini secara rinci.
Oleh karena itu, Abdullah bin Umar pernah berkata kepada maulanya, Nafi‘, ketika melihatnya shalat dalam keadaan kepala terbuka (tidak tertutup),
“Tutuplah kepalamu. Apakah kamu akan keluar menemui manusia dalam keadaan kepalamu terbuka?”
Nafi‘ menjawab, “Tidak.”
Ibn Umar berkata, “Maka Allah lebih berhak untuk kamu berhias di hadapan-Nya.”
Dengan demikian, mengenakan perhiasan (pakaian yang indah atau layak) dalam shalat adalah hal yang berbeda dari sekadar menutup aurat. Kita katakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah salah seorang dari kalian shalat dalam satu kain yang tidak menutupi bagian pundaknya.”
Padahal, pundak laki-laki bukanlah termasuk aurat menurut kesepakatan ulama. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap memerintahkan untuk menutupnya dalam shalat. Lalu beliau bersabda, “Yang tidak sesuatu pun di atas pundaknya.” Jadi, bukan penutup aurat yang menjadi titik tumpu (manat al-hukm) dalam perintah ini, tetapi yang menjadi titik tumpunya adalah memakai perhiasan (pakaian yang layak). Inilah yang Allah perintahkan dan yang ditunjukkan oleh Sunah.”
Sumber: Asy-Syarh al-Mumti‘ ‘ala Zad al-Mustaqni‘, jilid 2, hlm. 151




