Dalam kehidupan sehari-hari, pasti kita berinteraksi dengan manusia serta bermuamalah dengan mereka, karena kita adalah makhluk sosial yang telah dituntut untuk bermuamalah dengan mereka, sehingga tidak luput pada diri kita dari ketidaksengajaan, kekeliruan serta kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, baik diperbuat secara sadar maupun tidak sadar, oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ” (سنن ابن ماجه برقم: 4251)
“Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4251)
Karena terkadang orang yang berbuat kesalahan tidak sadar akan kesalahannya, sehingga terjadilah konsep “saling nasihat-menasihati”, bahkan sekelas para ulama pun terkadang ‘keliru’, Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan
“إذا صح الحديث، فاضربوا بمذهبي عرض الحائط”.(كفاية النبيه في شرح التنبيه: 4\264) لابن الرفعة
“Apabila hadis itu sahih, maka lemparkanlah pendapatku ke dinding.” (kifayatun Nabiih fi syarhit Tanbiihi: juz:4 halama:264 karya Ibnu Rof’ah)
Begitulah roda kehidupan manusia, sehingga dengarkanlah bila ada yang menyampaikan nasihat kepadamu, karena tugas seorang muslim hanya amar ma’ruf nahi munkar, bila engkau tidak terima nasihatnya, maka itu urusanmu dengan Allah ta’ala. Bukankah jikalau engkau bercermin lalu melihat ada kotoran di matamu, telingamu atau di kepalamu, toh engkau akan menyingkirkannya? Bahkan engkau merasa berterima kasih kepada cermin tersebut? Atau justru engkau akan marah hingga memecahkan cermin tersebut?! Apa kesalahan yang diperbuat cermin? Toh, dia hanya memperlihatkan keadaan yang sebenarnya terjadi?! lalu mengapa engkau marah, benci, bahkan dendam kepada orang yang menasihatimu?! Ataukah engkau beranggapan dirimu yang paling suci?! padahal Allah ta’ala telah befirman
فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ
“Maka janganlah kalian menganggap dirimu suci. Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).
Diantara bentuk nasihat pula ialah mengamalkan nasihat tersebut, tidak hanya sekedar kagum sesaat, lalu lupa untuk selamanya.





