Dalam kitab-kitab para ulama salaf, tauhid selalu menjadi titik awal pembahasan akidah. Dalam kitab Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyah, pertama kali yang disebut oleh penulis adalah tauhid:
(نَقُولُ فِي تَوْحِيدِ اللَّهِ مُعْتَقِدِينَ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ: إِنَّ اللَّهَ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ).
“Kami berkata tentang tauhid kepada Allah, dalam keadaan kami meyakini dengan taufik dari Allah: Sesungguhnya Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya,”
Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, dan merupakan tahap pertama dalam perjalanan menuju Allah, serta tempat pertama yang ditempati oleh seorang salik (penempuh jalan) menuju Allah. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ [الأعراف: 59]
“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) bagi kalian selain-Nya.’” (QS. Al-A‘raf: 59).
Nabi Hud ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya,
ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ [الأعراف: 65]
“Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.” (QS. Hud: 50).
Nabi shalih ‘alaihissalam pada kaumnya,
ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ [الأعراف: 73]
“Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.” (QS. Al-A‘raf: 73).
Begitu pula Nabi Syu’aib ‘alaihissalam,
ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ [الأعراف: 85]
“Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.” (QS. Al-A‘raf: 85).
Juga firman-Nya,
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ [النحل: 36]
“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (dengan menyeru), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36)
وَقَالَ تَعَالَى: وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ [الأنبياء: 25]
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)
وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ».
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf (orang yang telah dikenai kewajiban syariat) adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, bukan dengan berpikir, bukan dengan berniat untuk berpikir, dan bukan dengan ragu-ragu, sebagaimana hal itu merupakan pendapat sebagian ahli kalam yang tercela. Bahkan seluruh imam salaf sepakat bahwa hal pertama yang diperintahkan kepada seorang hamba adalah dua kalimat syahadat. Mereka juga sepakat bahwa siapa pun yang telah mengucapkannya sebelum baligh, tidak diperintahkan untuk mengulanginya setelah baligh.
Sumber: Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyah libni Abil Izz.





