Beriman kepada takdir Allah, baik yang baik maupun yang buruk, merupakan salah satu rukun iman. Setiap muslim wajib meyakini bahwa segala ketetapan Allah Ta’ala terjadi dengan ilmu, kehendak, hikmah, dan keadilan-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin menerima seluruh ketetapan Allah dengan penuh keimanan dan keyakinan bahwa segala yang Allah tetapkan mengandung hikmah, meskipun terkadang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia.
Di antara manhaj Salaf dalam masalah takdir adalah tidak berlebih-lebihan dan tidak mendalami pembahasan yang berada di luar batas kemampuan akal manusia. Al-Imam Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata:
“Aku pernah berusaha menelaah pembahasan tentang takdir, namun aku justru menjadi bingung. Kemudian aku mencoba meninjaunya kembali, tetapi aku tetap bingung. Lalu aku mendapati bahwa orang yang paling memahami masalah takdir adalah mereka yang paling menahan diri dari membahasnya. Adapun orang yang paling bodoh tentang takdir ialah mereka yang paling banyak berbicara mengenainya.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya mencukupkan diri dengan apa yang telah dijelaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam masalah takdir, serta tidak memaksakan diri memasuki pembahasan yang tidak dijelaskan oleh syariat. Sikap seperti inilah yang ditempuh oleh para ulama Salaf dalam menjaga keimanan dan keselamatan agama mereka.
Sumber: Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, hlm. 147, karya Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi.





