المسألة الثانية: مكروهات الصيام
يكره في حق الصائم بعض الأمور التي قد تؤدي إلى جرح صومه، ونقص أجره، وهي:
1- المبالغة في المضمضة والاستنشاق وذلك خشية أن يذهب الماء إلى جوفه؛ لقوله:(و بالغ في الإستنشاق إلاّ أن تكون صائماً)
2- القبلة لمن تحرك شهوته، وكان ممن لا يأمن على نفسه فيكره للصائم أن يقبل زوجته أو أمته؛ لأنها قد تؤدي إلى إثارة الشهوة التي تجر إلى فساد الصوم بالإمناء أو الجماع، فإن أبر على نفسه من فساد صومه فلا بأس؛ لأن النبي ﷺ كان يقبل وهو صائم، قالت عائشة عليه و كان أملككم لأَرَبِه) – أي حاجته – وكذلك عليه تجنب كل ما من شأنه إثارة شهوته، و تحريكها؛ كإدامة النظر إلى الزوجة، أو الأمة، أو التفكر في شأن الجماع؛ لأنه قد يؤدي إلى الإمناء، أو الجماع.
3 – بلع النخامة: لأن ذلك يصل إلى الجوف، ويتقوى به، إلى جانب الاستقذار والضرر الذي يحصل من هذا الفعل.
4-ذوق الطعام لغير الحاجة فإن كان محتاجا إلى ذلك – كأن يكون طباخا يحتاج لذوق ملحه وما أشبهه – فلا بأس، مع الحذر من وصول شيء من ذلك إلى حلقه.
Permasalahan kedua: Hal-hal yang dimakruhkan ketika puasa
Dimakruhkan bagi orang yang berpuasa melakukan perbuatan yang mengurangi kesempurnaan dari pahala puasanya, yaitu:
1. Berlebihan dalam berkumur dan menghirup air ke hidung karena dikhawatirkan air tersebut masuk ke perut.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam,
(وبالغ في الإستنشاق إلاّ أن تكون صا ئمًا)
“Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke hidung, kecuali jika kamu sedang berpuasa.”
2. Mencium istri bagi lelaki yang akan membangkitkan shawatnya dan termasuk tipe lelaki yang tidak bisa menahan diri.
Dimakruhkan bagi orang yang berpuasa mencium istrinya atau budak wanitanya karena hal ini dapat membangkitkan syahwat yang selanjutnya membawa kepada rusaknya puasa dengan keluarnya air mani atau persetubuhan. Jika ia bisa menaham diri dari membatalkan puasanya, boleh baginya mencium istrinya karena Nabi pernah mencium istri beliau ketika berpuasa. Aisyah berkata, “Beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri,” yaitu bisa menahan hasratnya.
Ia harus menghindari hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat, seperti lama memandang istri atau budak wanitanya, atau membayangkan jima’, karena hal ini mengantarkan pada keluarnya mani atau jima’.
3. Menelan dahak karena dahak akan sampai ke dalam perut dan bisa digunakan untuk menguatkan dirinya. Di samping itu, menelan dahak dianggap menjijikkan dan sapat menimbulkan efek buruk.
4. Mencicipi makanan bukan karena butuh.
Jika orang yang berpuasa butuh mencicipi makanan, misalnya karena ia seorang koki dan butuh untuk mencicipi rasa asin pada masakannya dan sebagianya, maka ia boleh untuk mencicipinya, tetapi harus dengan hati-hati agar tidak ada yang sampai ke tenggorokannya.
(Dinukil dari kitab Al-Fiqhu Al-Muyassar, hal 170-171)
Ditulis oleh: Muhammad Jundi Renaldi (santri TDNI angkatan ke-2)





