,

Tafsir Surat Al-Qadr

oleh -1184 Dilihat
oleh

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَما أَدْراكَ ما لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيها بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(٤) سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥)

التفسير:

الضمير في إِنَّا أَنْزَلْناهُ للقرآن إما لأن القرآن كله في حكم سورة واحدة وإما لشهرته ومن نباهة شأنه كأنه مستغن عن التصريح بذكره، وقد عظم القرآن في الآية من وجوه أخر هي إسناد إنزاله إلى نفسه دون غيره كجبرائيل مثلا، وصيغة الجمع الدالة على عظم رتبة المنزل، إذ هو واحد في نفسه نقلا وعقلا والرفع من مقدار الوقت الذي أنزل فيه وهو ليلة القدر.

  وهاهنا مسائل الأولى: كيف حكم بأنه أنزل في هذه الليلة مع أنه أنزل نجوما في نيف وعشرين سنة؟ والجواب كما مر في البقرة في قوله شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ ]البقرة: ١٨٥ [أي أنزل فيها من اللوح المحفوظ إلى السماء الدنيا جملة ثم منها إلى الأرض نجوما، ووجه حسن المجاز أنه إذا أنزل إلى السماء الدنيا فقد شارف النزول إلى الأرض فيكون من فوائد التشويق كما قيل: وأبرح ما يكون الشوق يوما … إذا دنت الخيام من الخيام

وقال الشعبي: ابتدئ بإنزاله في هذه الليلة لأن المبعث كان في رمضان. وقيل: أراد إنا أنزلنا القرآن يعني هذه السورة في فضل ليلة القدر والقدر بمعنى التقدير. قال عطاء عن ابن عباس: إن الله تعالى قدر كل ما يكون في تلك السنة من مطر ورزق وإحياء وإماتة إلى مثل هذه الليلة من السنة الآتية نظيره قوله فِيها يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ]الدخان: ٤ [في أحد الوجوه والمراد إظهار تلك المقادير للملائكة في تلك الليلة فإن المقادير من الأزل إلى الأبد ثابتة في اللوح المحفوظ، وهذا قول أكثر العلماء. ونقل عن الزهري أنه قال: ليلة القدر يعني ليلة الشرف والعظمة من قولهم “لفلان قدر عند فلان” أي منزلة وخطر، ويؤيد هذا التأويل قوله لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ثم هذا الشرف ما أن يرجع إلى الفاعل أي من أتى فيها بالطاعة صار ذا قدر وشرف. وإما أن يرجع إلى الفعل لأن الطاعة فيها أكثر ثوابا وقبولا. وعن أبي بكر الوراق: من شرفها أنه أنزل فيها كتاب ذو قدر على لسان ملك ذي قدر إلى أمة ذوي قدر. ولعل الله تعالى إنما ذكر لفظ القدر في هذه السورة ثلاث مرات لهذا السبب. وقيل: القدر الضيق وذلك أن الأرض في هذه الليلة تضيق عن الملائكة.

الثانية هذه الليلة هل تضاف إلى يومها الذي بعدها؟ قال الشعبي: نعم يومها كليلتها لقوله ثَلاثَ لَيالٍ سَوِيًّا ]مريم: ١٠ [وفي موضع، ثَلاثَةَ أَيَّامٍ ]آل عمران: ٤١ [ولهذا لو نذر أن يعتكف ليلتين ألزمناه يومهما.

الثالثة قال الخليل: من قال إن فضلها لنزول القرآن فيها يقول: انقطعت وكان مرة والجمهور على أنها باقية. ثم إنه روي عن ابن مسعود أنها في جميع السنة فمن حافظ على الليالي كلها أدركها. وعن عكرمة أنها ليلة البراءة. والأكثرون على أنها في رمضان لقوله تعالى شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ ]البقرة: ١٨٥ [وقوله إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ فيجب من الآيتين أن تكون ليلة القدر في رمضان. ثم في تعيينها خلاف فقال ابن رزين: هي الليلة الأولى من رمضان لما روي عن وهب أن كتب الأنبياء كلهم إنما نزلت في رمضان وكانت الليلة الأولى منه في غاية الشرف. وعن الحسن البصري: السابعة عشرة لأن وقعة بدر كانت في صبيحتها. وعن أنس مرفوعا: التاسعة عشرة. وقال محمد بن إسحق: هي الحادية والعشرون لما روي من حديث الماء والطين.

ومعظم الأقوال أنها السابعة والعشرون. وذكروا فيها أمارات ضعيفة منها أن السورة ثلاثون كلمة وقوله هِيَ السابعة والعشرون منها، روي هذا عن ابن عباس. وعنه أيضا أنّ ليلة القدر تسعة أحرف وهي مذكورة ثلاث مرات وروي أنه كان لعثمان بن أبي العاص غلام فقال: يا مولاي إن البحر يعذب ماؤه في ليلة من الشهر فقال: إذا كان تلك الليلة فأعلمني فإذا هي السابعة والعشرون من رمضان. قلت: ومن الأمارات التي يحتمل اعتبارها أن الضعيف مؤلف الكتاب وصل إلى تفسير هذه السورة في السابعة والعشرين من رمضان سنة تسع وعشرين وسبعمائة من هجرة النبي صلى الله عليه وسلم، ولعل لله سبحانه فيه سرا ما لا يطلع عليه إلا هو وحده وأنا أرجو من فضله العميم أن يجعل ذلك سببا لبركات الدارين لي ولمن نظر في هذا الكتاب من إخواني في الدين وما الاعتصام إلا بحوله. وقيل: هى الليلة الأخيرة لأن الطاعات في الشهر تتم وقتئذ بل أول رمضان كآدم وآخره كمحمد صلى الله عليه وسلم

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar. (1) Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? (2) Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. (3) Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4) Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. (5).”

Tafsir:

Kata ganti pada ayat  “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya” merujuk pada Al-Qur’an. Ini bisa diartikan karena keseluruhan Al-Qur’an dianggap sebagai satu kesatuan seperti satu surat atau karena kemasyhurannya dan kemuliaan urusannya yang membuatnya tidak perlu disebutkan secara eksplisit. Pada ayat ini Al-Qur’an diagungkan dari beberapa aspek yang lain, yaitu dengan menyatakan bahwa Allah sendirilah yang menurunkannya bukan yang lainnya seperti Jibril, penggunaan bentuk jamak yang menunjukkan keagungan kedudukan Dzat yang menurunkan Al-Qur’an (yaitu Allah), karena Dia itu Esa pada Diri-Nya baik secara dalil maupun akal, dan ketinggian waktu turunnya yaitu pada malam Lailatul Qadar.

Ada beberapa permasalahan yang dibahas dalam tafsir ini:

Pertama:

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam ini, padahal ia diturunkan secara bertahap selama lebih dari dua puluh tahun? Jawabannya sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah, “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” (Al-Baqarah: 185), yaitu bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia secara keseluruhan, kemudian dari sana diturunkan secara bertahap ke bumi. Sisi penggunaan gaya Bahasa yang bagus ini adalah bahwasannya apabila Al-Quran telah diturunkan ke langit dunia, berarti sudah dekat turunnya ke bumi maka hal ini memeberkan faedah kerinduan (kepadanya) sehinnga memberikan semangat dan persiapan menyambut turunnya wahyu. Sebagaimana dikatakan, “Dan betapa hebatnya rasa rindu pada suatu hari… apabila tenda-tenda sudah saling berdekatan.”,

Menurut Asy-Sya’bi Al-Qur’an mulai diturunkan pada malam ini karena permulaan kenabian terjadi pada bulan Ramadan. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan turunnya Al-Qur’an adalah turunnya surah ini yang menjelaskan keutamaan Lailatul Qadar.

Kedua:

Makna dari “Lailatul Qadar” dapat diartikan sebagai malam penentuan takdir. Menurut Atha’ dari Ibnu Abbas, pada malam itu Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi dalam setahun berikutnya, seperti hujan, rezeki, kehidupan, dan kematian. Hal ini serupa dengan firman Allah (yang artinya), “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhan: 4) Ini adalah salah satu tafsirnya. Dan yang dimaksudkan adalah menampakkan takdir-takdir tersebut kepada para malaikat pada malam itu. Dikarenakan takdir-takdir dari awal sampai akhir itu ada di Lauh Mahfuzh. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Ketiga:

Beberapa ulama berpendapat seperti Az Zuhri bahwa “Lailatul Qadar” berarti malam kemuliaan dan keagungan, sebagaimana dikatakan dalam bahasa Arab “Fulan memiliki qadar (di sisi Fulan)”  yang berarti memiliki kedudukan dan kehormatan. Tafsir ini diperkuat dengan firman Allah, “Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan,” yang berarti kemuliaannya sangat tinggi. Kemudian kemuliaan tersebut Kembali kepada pelaku yakni pada siapa saja yang melakukan ketaatan pada malam tersebut maka dia menjadi orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Bisa pula kepada perbuatannya dikarenakan ketaatan yang dilakukan pada malam tersebut tersebut paling banyak pahalanya dan paling diterima. Dari Abu Bakr Al-Warraq, “Di antara kemuliaan malam tersebut adalah bahwa padanya diturunkan kitab yang memiliki kemuliaan melalui lisan malaikat yang memiliki kemuliaan kepada umat yang memiliki kemuliaan. Bisa jadi Allah Ta’ala menyebutkan lafazh “al-qadr” (kemuliaan) pada surat ini sebanyak tiga kali karena sebab ini.”

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa “Qadar” berarti sempit, karena bumi menjadi sempit oleh banyaknya malaikat yang turun pada malam itu.

Keempat:

Apakah malam ini berkaitan dengan siangnya yang datang setelah malam tersebut?  Menurut Asy-Sya’bi, “Ya. Malam ini diikuti oleh siang yang sama keutamaannya, berdasarkan firman-Nya, ”tiga malam, padahal kamu sehat.” (Maryam: 10) dan tempat lain (surat lain), Allah berfirman, “kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari.” (Al Imran: 41) Oleh karena itulah, seandainya seorang bernadzar i’tikaf selama dua malam maka kami wajibkan dia beri’tikaf pula pada dua siang harinya.

Kelima:

Berkata Al Kholil, “Barangsiapa yang berkata (berpendapat) bahwa keutamaan Lailatul Qodr itu karena turunnya Al-Qur’an pada malam tersebut maka dia akan mengatakan, “Lailatul Qodr sudah terputus dan hanya terjadi sekali saja.” Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa Lailatul Qodr itu masih tetap ada kemudian sesungguhnya telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Lailatul Qodr itu ada pada seluruh tahun, maka barangsiapa yang menjaga pada malam-malam seluruhnya maka dia akan mendapatkan. Dan dari Ikrimah bahwa Lailatul Qodr itu adalah malam Al-Baro’ah. Sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwa Lailatul Qodr itu ada pada bulan Ramadhan berdasarkan firman-Nya, ”Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan padanya Al-Qur’an.” (Al-Baqarah: 185) dan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qodr.” (Al Qodr: 1) Maka dari dua ayat tersebut, mestilah Lailatul Qodr itu terjadi pada bulan Ramadhan.” Apakah malam ini hanya terjadi sekali atau berulang setiap tahun? Menurut kebanyakan ulama, malam ini berulang setiap tahun.

Mengenai kapan tepatnya malam Lailatul Qadar terjadi, terdapat beberapa pendapat:

  1. Malam pertama Ramadan, berdasarkan riwayat dari Wahb yang mengatakan bahwa kitab-kitab suci diturunkan pada bulan Ramadan.
  2. Malam ke-17, karena malam itu bertepatan dengan Perang Badar.
  3. Malam ke-19, sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Anas.
  4. Malam ke-21, berdasarkan hadis tentang air dan tanah.
  5. Malam ke-27, yang merupakan pendapat mayoritas ulama. Dikatakan bahwa surah Al-Qadr terdiri dari tiga puluh kata, dan kata “Hiya” (ia) adalah kata ke-27 di dalamnya, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
  6. Malam terakhir Ramadan, karena pada saat itu ibadah mencapai puncaknya, sebagaimana awal Ramadan diibaratkan seperti Adam dan akhirnya seperti Muhammad ﷺ.

Dikisahkan juga bahwa seorang hamba milik Utsman bin Abi Al-Ash berkata bahwa air laut menjadi tawar pada malam tertentu di bulan Ramadan, dan ketika ia diminta untuk mengamati, malam itu ternyata adalah malam ke-27 Ramadan.

Selain itu, ada kisah seorang penulis yang menyelesaikan tafsir surah ini pada malam ke-27 Ramadan tahun 729 H, yang ia anggap sebagai rahmat dari Allah.

Dengan semua tanda dan riwayat ini, Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, dan harapan agar malam ini menjadi sumber berkah bagi seluruh umat Islam.

Kitab Tafsir An Naysabury Ghoroibul Quran Wa Roghoibul Furqon karya An Naysabury jilid, 6 hal. 535-537

Ditulis oleh: Usamah Al-Fath (Santri TDNI angkatan ke-2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.