Pada masa awal dakwah Islam, kaum musyrik Quraisy sangat keras dalam menyiksa orang-orang yang telah memeluk Islam. Mereka menyiksa dengan kejam, ada yang dilempar ke pasir panas, diikat, bahkan diletakkan batu besar di dada mereka di bawah terik matahari. Saking parahnya, banyak dari mereka yang akhirnya terpaksa mengucapkan perkataan kufur hanya demi menyelamatkan diri dari siksaan. Mereka dipaksa mengakui sembahan-sembahan berhala, bahkan hingga dikatakan kepada mereka, “Apakah ini tuhanmu selain Allah?” dan mereka terpaksa menjawab: “Ya.”
Salah satu tragedi memilukan adalah penyiksaan terhadap Sumayyah binti Khayyat radhiyallahu ‘anha, ibu dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu. Abu Jahl, musuh Allah, membunuhnya dengan menusuk kemaluannya menggunakan tombak hingga mati syahid. Sumayyah menjadi wanita pertama yang syahid dalam Islam, semoga Allah ta’ala meridhoi beliau dan keluarganya.
Di sisi lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menunjukkan kasih sayang dan keberanian luar biasa. Ia membeli budak-budak muslim yang disiksa dan membebaskan mereka, seperti Bilal bin Rabah, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubays, dan lainnya radhiyallahu ‘anhum. Ketika ayahnya menegurnya karena membebaskan budak-budak lemah, Abu Bakar menjawab, “Aku hanya menginginkan keridhaan Allah.” Maka turunlah ayat: “Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan darinya (neraka). Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya.” (QS. Al-Lail: 17-18)
Karena tekanan yang begitu berat, Allah ta’ala akhirnya mengizinkan para sahabat untuk berhijrah ke negeri Habsyah (Ethiopia sekarang), yang dipimpin oleh Raja Najasyi yang adil. Hijrah ini melewati gurun dan lautan, dan yang pertama kali hijrah menurut riwayat adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dan istrinya Ruqayyah, putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagian ulama menyebut bahwa Abu Hatib bin Amr adalah yang pertama berhijrah, diikuti oleh Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bersama sekelompok sahabat, berjumlah sekitar 80 orang. Mereka diterima dengan baik oleh Raja Najasyi.Namun, Quraisy tidak tinggal diam. Mereka mengirim utusan, yaitu Amr bin Al ‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah dengan membawa hadiah untuk membujuk Najasyi agar mengusir kaum muslimin. Mereka juga menfitnah bahwa umat Islam menghina Nabi Isa ‘alaihis salam.
Mendengar hal ini, Najasyi memanggil kaum muslimin dan meminta penjelasan. Ja’far bin Abi Thalib pun membacakan surat Maryam yang menyebutkan kisah kelahiran Isa ‘alaihis salam dan kedudukannya sebagai hamba Allah ta’ala. Mendengar bacaan itu, Najasyi mengambil sebatang kayu dan berkata, “Apa yang kamu bacakan tidak berbeda dengan apa yang ada dalam Taurat, walau sebatang kayu ini pun.” Ia kemudian menolak hadiah dari utusan Quraisy dan berkata, “Demi Allah, meski kalian memberiku gunung emas, aku tidak akan menyerahkan mereka.”Akhirnya, para utusan Quraisy pun pulang dengan kehinaan, dan kaum muslimin hidup aman di bawah perlindungan Raja Najasyi.
Referensi: Al Fushul Fii Siiratir Rasuul



