PERSAUDARAAN ANTARA MUHAJIRIN & ANSHAR, WARISAN UKHUWWAH YANG HARUS KITA HIDUPKAN KEMBALI.

oleh -857 Dilihat
oleh

Di zaman sekarang, kita sering melihat fenomena yang menyedihkan: banyak kaum muslimin yang acuh, bahkan cuek, tidak peduli terhadap kesulitan yang dialami oleh saudara seiman mereka. Ketika ada tetangga yang butuh bantuan, saudara yang mengalami musibah, atau bahkan umat Islam di negeri lain yang sedang tertimpa bencana, tidak sedikit dari kita yang hanya lewat, tidak peduli, atau bahkan mengabaikannya.

Ketidakpedulian terhadap kesulitan saudara muslim menunjukkan lemahnya ukhuwah kita, karena ukhuwah yang hakiki akan mendorong kita untuk:

  • Merasa bertanggung jawab satu sama lain,
  • Ikhlas berbagi,
  • Menguatkan satu sama lain dalam suka dan duka.

Apakah kita lupa bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatukan orang-orang yang tidak pernah kenal, tidak satu kota, tidak satu budaya—dan mereka jadi lebih dekat dari saudara kandung?

Inilah salah satu teladan yang luar biasa dari perjalana hidup Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah, yang mana persaudaraan tersebut dibangun bukan karena kekerabatan atau kepentingan duniawi, tetapi murni karena iman.

Peristiwa bersejarah ini terjadi saat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam hijrah dari Makkah ke Madinah. Dalam kondisi kaum Muhajirin ketika itu lemah secara ekonomi dan sosial, mereka datang dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, Mereka datang ke Madinah hanya bermodalkan keimanan dan harapan akan tempat baru yang aman, Saat itu, kaum Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah, menyambut mereka dengan hangat.

Kemudian untuk memperkuat hubungan antara dua kelompok ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan satu orang Muhajir dengan satu orang Anshar. Persaudaraan ini bukan sekadar ucapan atau formalitas. Mereka benar-benar hidup bersama, berbagi tempat tinggal, makanan, pekerjaan, bahkan—pada tahap awal Islam—sampai saling mewarisi seperti keluarga kandung, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitabnya Al Fushul Fi Sirotirrosul,

‌‌فصل ـ المواخاة بين المهاجرين والأنصار

وآخى رسول الله صلى الله عليه وسلم بين المهاجرين والأنصار، فكانوا يتوارثون بهذا الإخاء في ابتداء الإسلام إرثاً مقدماً على القرابة.

“Kemudian, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, sehingga mereka saling mewarisi karena hubungan ukhuwah ini—bahkan pada awal Islam, warisan karena ukhuwah didahulukan daripada warisan karena hubungan kekerabatan.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan mereka sedemikian erat, sehingga mereka saling mewarisi—padahal itu adalah hak istimewa yang biasanya hanya berlaku karena hubungan kekerabatan. Ini menunjukkan bahwa persaudaraan karena iman bisa lebih kuat dari ikatan keluarga sekalipun.

Semangat yang ditunjukkan kaum Anshar kepada Muhajirin adalah contoh nyata bagaimana ukhuwah Islamiyyah seharusnya dijalankan:

  • Mengutamakan kepentingan saudara muslim yang kesulitan, bahkan melebihi hubungan kekerabatan.
  • Membuka pintu hati dan harta untuk meringankan beban mereka.
  • Menjalin persaudaraan yang kuat berdasarkan iman dan kasih sayang, bukan sekadar hubungan sosial biasa.

sebuah pelajaran penting bahwa iman yang sama dapat menyatukan hati dan kehidupan, bahkan lebih kuat daripada ikatan kekerabatan dan harta.

Jika kita ingin ukhuwah Islamiyyah kita benar-benar kokoh, maka kita harus belajar dari kisah ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan meningkatkan kepedulian kita terhadap kesulitan saudara-saudara kita.

Kalau kaum Anshar bisa memberikan harta dan bahkan mewariskan kepada saudara baru mereka yang hanya karena iman, tidakkah kita sebagai umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam harus saling peduli?

Marilah kita mulai dari hal kecil:

  • Tanyakan kabar saudara kita yang kesusahan.
  • Berikan bantuan, sekecil apapun, kepada yang membutuhkan.
  • Jangan biarkan rasa cuek dan acuh menutupi hati kita.

Ingatlah bahwa ukhuwah Islamiyyah bukan sekadar kata-kata, tapi adalah tanggung jawab kita untuk saling menjaga dan memperkuat ikatan iman.

Sumber: Al Fushuul Fii Siiratir Rasuul

No More Posts Available.

No more pages to load.