KEISLAMAN UMAR BIN KHATTAB RADHIYALLAHU ‘ANHU

oleh -560 Dilihat
oleh

Ibnu Ishaq rahimahullah berkata, “Ketika Amr bin Al-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah kembali kepada Quraisy (dari Habasyah), dan mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Raja Najasyi (yakni memulangkan kaum muslimin yang hijrah ke sana), dan Najasyi menolak mereka dengan sikap yang mengecewakan mereka — saat itulah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu masuk Islam.

Umar adalah seorang lelaki yang kuat, kokoh tekadnya, tidak mudah digoyahkan. Dengan keislamannya, kaum muslimin menjadi kuat. Bersama Hamzah radhiyallahu ‘anhu, mereka mulai berani menghadapi Quraisy.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami tidak mampu salat di dekat Ka’bah, hingga Umar masuk Islam. Setelah ia masuk Islam, ia melawan Quraisy, hingga akhirnya ia bisa salat di dekat Ka’bah, dan kami pun salat bersamanya.”

Keislaman Umar terjadi setelah hijrah pertama ke Habasyah. Al-Bukai’i rahimahullah meriwayatkan dari Mis’ar bin Kidam, dari Sa’d bin Ibrahim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Sesungguhnya keislaman Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Kami dahulu tidak bisa salat di dekat Ka’bah sampai Umar masuk Islam. Ketika ia masuk Islam, ia melawan Quraisy hingga ia bisa salat di sana, dan kami pun salat bersamanya.”

Kisah lengkapnya sebagaimana disebutkan ibnu ishaq rahimahullah, “Diriwayatkan kepada kami bahwa keislaman Umar terjadi ketika saudarinya, Fatimah binti Al-Khattab, yang merupakan istri dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail, telah masuk Islam. Baik Fatimah maupun suaminya, Sa’id, telah memeluk Islam, namun menyembunyikan keislaman mereka dari Umar karena takut terhadap reaksinya. Ada pula seorang lelaki dari kaumnya yang bernama Nu‘aim bin ‘Abdullah An-Nahham, dari Bani ‘Adiy bin Ka‘b, telah masuk Islam, namun juga menyembunyikannya karena takut kepada kaumnya. Sementara itu, Khabbab bin Al-Aratt sering datang ke rumah Fatimah binti Al-Khattab untuk mengajarkan Al-Quran kepadanya.

Suatu hari, Umar keluar dengan pedangnya terhunus, dengan niat untuk menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sekelompok sahabatnya yang telah disebutkan kepadanya bahwa mereka berkumpul di sebuah rumah di dekat bukit Shafa. Jumlah mereka saat itu sekitar empat puluh orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan di antara mereka bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat paman beliau, Hamzah bin Abdul Muththalib, Abu Bakar bin Abi Quhafah As-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib, serta sejumlah laki-laki dari kaum muslimin yang tetap tinggal bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah dan tidak ikut hijrah ke negeri Habasyah. Umar lalu bertemu dengan Nu‘aim bin Abdullah, dan Nu‘aim bertanya kepadanya, “Mau ke mana engkau, wahai Umar?”, Umar menjawab, “Aku hendak menemui Muhammad si murtad itu, yang telah memecah belah urusan Quraisy, merendahkan akal mereka, mencela agama mereka, dan menghina tuhan-tuhan mereka. Aku ingin membunuhnya.” Nu‘aim berkata kepadanya, “Demi Allah, engkau telah tertipu oleh dirimu sendiri, wahai Umar! Apakah engkau menyangka Bani Abdi Manaf akan membiarkanmu berjalan bebas di muka bumi setelah engkau membunuh Muhammad? Tidakkah sebaiknya engkau kembali kepada keluargamu dan urus mereka dulu?” Umar bertanya, “Keluargaku yang mana?” Nu‘aim menjawab, “Iparmu dan sepupumu, Sa‘id bin Zaid bin ‘Amr, dan saudara perempuanmu, Fatimah binti Al-Khattab. Demi Allah, keduanya telah masuk Islam dan mengikuti Muhammad dalam agamanya. Pergilah kepada mereka.”

Umar pun segera kembali menuju rumah adiknya dan iparnya. Saat itu mereka sedang bersama Khabbab bin Al-Aratt, dan di tangan mereka terdapat lembaran bertuliskan surat Thaha, yang sedang dibacakan Khabbab kepada keduanya.

Ketika mereka mendengar suara langkah Umar yang mendekat ke rumah, Khabbab pun bersembunyi di dalam salah satu ruangan kecil atau di sudut rumah. Fatimah segera mengambil lembaran itu dan menyembunyikannya di bawah pahanya. Umar telah mendengar bacaan Khabbab sebelum masuk ke rumah. Ketika ia masuk, ia berkata, “Apa suara-suara samar yang aku dengar tadi?” Mereka menjawab, “Kami tidak mendengar apa-apa.” Umar berkata, “Tidak, demi Allah. Sungguh telah diberitahukan kepadaku bahwa kalian berdua telah mengikuti Muhammad dalam agamanya.” Lalu ia memukul iparnya, Sa‘id bin Zaid. Maka Fatimah pun berdiri untuk membela suaminya, tetapi Umar memukulnya hingga mengalir darah dari wajahnya. Ketika melihat apa yang dilakukannya terhadap adiknya, Fatimah dan suaminya berkata, “Ya, kami telah masuk Islam dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lakukanlah sesukamu!” Melihat darah di wajah adiknya, Umar pun menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Hatinya melunak, lalu ia berkata kepada saudarinya, “Berikan kepadaku lembaran yang kalian baca tadi. Aku ingin melihat apa yang dibawa Muhammad.”, Umar pada saat itu adalah seorang yang bisa membaca dan menulis. Ketika ia berkata demikian, saudarinya menjawab, “Kami khawatir engkau akan mencelanya.” Umar berkata, “Jangan takut, aku bersumpah demi tuhan-tuhanmu bahwa aku akan mengembalikannya setelah aku membacanya.”

Ketika ia bersumpah seperti itu, Fatimah pun mulai berharap Umar akan masuk Islam. Maka ia berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, engkau dalam keadaan najis karena kesyirikanmu Dan sesungguhnya tidak ada yang menyentuhnya (Al-Quran) kecuali orang yang suci.”

Maka Umar pun berdiri lalu mandi. Kemudian dia (saudarinya) memberikan lembaran itu kepadanya. Di dalamnya tertulis: ‘Thaha (20):1’. Maka dia pun membacanya. Ketika ia membaca bagian awal darinya, dia berkata, ‘Alangkah indah dan mulianya kalimat ini!’

Ketika Khabbab mendengar hal itu, ia keluar menemuinya dan berkata, ‘Wahai Umar! Demi Allah, sungguh aku berharap bahwa Allah telah mengkhususkan dirimu dengan doa Nabi-Nya. Sesungguhnya aku mendengarnya kemarin berkata, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan (masuk Islamnya) Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau dengan Umar bin Al-Khattab.” Maka demi Allah, wahai Umar!’, Lalu Umar berkata kepadanya, ‘Tunjukkan aku kepada Muhammad agar aku menemuinya dan masuk Islam.’ Maka Khabbab berkata kepadanya, ‘Dia ada di sebuah rumah dekat Shafa, bersama beberapa orang sahabatnya.’, Lalu Umar mengambil pedangnya dan menyandangnya, kemudian menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ia mengetuk pintu mereka, dan ketika mereka mendengar suaranya, seorang laki-laki dari kalangan sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan mengintip dari celah pintu. Ia melihat Umar sedang menyandang pedang. Maka ia kembali kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan ketakutan dan berkata, “Wahai Rasulullah, ini Umar bin Al-Khattab sedang menyandang pedangnya!”

Lalu Hamzah bin Abdul Muththalib berkata, “Biarkan dia masuk. Jika ia datang dengan niat baik, kita akan memberinya kebaikan itu. Tapi jika ia datang dengan niat jahat, kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri!”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Izinkan dia masuk.” Maka orang itu pun mengizinkannya masuk. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan menemuinya di ruangan. Beliau memegang bagian tengah bajunya (atau bagian kerah selendangnya), kemudian menariknya dengan tarikan yang keras, seraya berkata, “Apa yang membuatmu datang, wahai Ibnul Khattab? Demi Allah, aku tidak melihatmu akan berhenti sampai Allah menurunkan bencana atasmu!”, Umar pun berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada apa yang datang dari sisi Allah.”

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dengan takbir yang keras, sehingga para sahabat yang berada di rumah itu mengetahui bahwa Umar telah masuk Islam.

(Sirah Ibnu Hisyam 1/346)

No More Posts Available.

No more pages to load.