فصل: في موافقات عمر رضي الله عنه
وأخرج ابن أبي حاتم في تفسيره عن أنس، قال: قال عمر: وافقت ربي في أربع، نزلت هذه الآية: {وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِين} الآية. [المؤمنون: 12] فلما نزلت قلت أنا: فتبارك الله أحسن الخالقين، فنزلت: {فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ} [المؤمنون: 14] فزاد في هذا الحديث خصلة سادسة، وللحديث طريق آخر عن ابن عباس أوردته في التفسير المسند.
«تاريخ الخلفاء» (ص99)
Fasal: Mengenai Kesesuaian Pendapat Umar radhiyallahu ‘anhu dengan Wahyu
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam tafsirnya dari Anas, ia berkata, “Umar berkata, “Aku bersesuaian dengan Tuhanku dalam empat hal:
(Salah satunya adalah) ketika turun ayat ini, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah liat.” hingga akhir ayat. (QS. Al-Mu’minun: 12)
Ketika ayat itu turun, aku (Umar) berkata, “Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” Maka turunlah ayat (yang artinya), “Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun: 14)
Dalam hadis ini, ditambahkan satu hal lagi, yaitu sifat/perkara keenam. Dan hadis ini memiliki jalur periwayatan lain dari Ibnu Abbas yang telah aku cantumkan dalam Tafsir Al-Musnad.
Catatan: Teks ini menjelaskan salah satu dari peristiwa terkenal yang disebut sebagai “Muwafaqat Umar”, yaitu kesesuaian pendapat Umar bin Khattab dengan wahyu Al-Qur’an yang turun kemudian. Dalam riwayat ini, disebutkan Umar mengucapkan kalimat “Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik” setelah mendengar ayat penciptaan manusia, dan kemudian Allah menurunkan ayat yang sama.
Sumber: Tarikh Al-Khulafa, hal. 99





