HAKEKAT TAWADHU

oleh -639 Dilihat
oleh

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, makhluk yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah, tapi justru beliaulah orang  yang paling menghayati hakikat tawadu’. Kedudukannya tidak menjadikannya merasa lebih tinggi dari yang lain, tak ingin dibedakan dari sahabatnya, dan tidak ingin di perlakukan istimewa.

Suatu ketika beliau duduk-duduk dengan para sahabatnya, dengan posisis yang sama, tidak ada pembeda, tiba-tiba datang seorang badui, ia melihat ke arah majlis lalu bertanya, ”Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad?” (Shahih Al-Bukhari: 63)

Pada kesempatan lain, seorang lelaki badui datang  menemui Rasulullah, lelaki itu gemetar karena melihat wibawa dan karisma pada diri Rasulullah. Lalu apa yang dilakukan oleh Rasulullah? Beliau dekati lelaki itu, memegang pundaknya, lalu berkata dengan lembut, ”Tenang! Santai! Aku bukanlah seorang raja yang layak ditakuti seperti itu, aku hanyalah seorang putra dari wanita Quraisy yang makan daging kering” (Ibnu Majah: 3312)

Maksudnya, aku ini sama seperti kalian, anak orang biasa, yang makan makanan yang sama dengan kebanyakan orang.

Hal ini menunjukkan kesempurnaan sikap tawadhu’ beliau terhadap kaum muslimin, dan inilah wujud dari pengamalan dan penghayatan beliau terhadap firman Allah,

﴾ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴿ 

“Rendahkanlah hatimu kepada orang beriman yang mengikutimu.”

Inilah hakikat dari tawadhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah, yaitu ia tidak sombong, merasa lebih tinggi dari yang lain, baik karena ilmu, nasab, harta, kedudukan serta jabatan yang ada pada dirinya. Dan tidaklah beliau bersikap demikian melainkan untuk memberikan teladan dan contoh kepada umatnya, agar bersikap tawadhu’,rendah hati, sebanyak apapun ilmu, ataupun harta yang kita miliki, setinggi apapun nasab, kedudukan, ataupun jabatan kita, karena barang siapa yang bersikap tawadu’ karena Allah (yaitu bersikap tawadhu’ bukan karena takut atau mengharapkan sesatu yang ada padanya) niscaya Allah akan mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat.

Sumber: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Ibn Utsaimin.

No More Posts Available.

No more pages to load.