ومن مذهب أهل الحديث: [أن الإيمان قول وعمل ومعرفة يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية]
قال محمد بن علي بن الحسن بن شقيق: سألت أبا عبد الله أحمد بن حنبل رحمه الله عن الإيمان في معنى الزيادة والنقصان؟ فقال: حدثنا الحسن بن موسى الأشيب قال: حدثنا حماد بن سلمة قال: حدثنا أبو جعفر القطني عن أبيه عن جده عن عمير بن حبيب قال: ((الإيمان يزيد وينقص فقيل: وما زيادته وما نقصانه؟ قال: إذا ذكرنا الله فحمدناه وسبحناه فتلك زيادته وإذا غفلنا وضيعنا ونسينا فذلك نقصانه))
Termasuk dari mazhab Ahlul Hadits adalah keyakinan bahwa iman itu mencakup ucapan, perbuatan, dan pengenalan (ma‘rifah); ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat.
Muhammad bin ‘Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal rahimahullah tentang makna bertambah dan berkurangnya iman.”
Maka beliau menjawab, “Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Musa Al-Asyyab, ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu Ja‘far Al-Qathani dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Umair bin Habib, ia berkata, ‘Iman itu bertambah dan berkurang.’”
Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang dimaksud dengan bertambahnya dan berkurangnya itu?’
Ia menjawab, ‘Jika kita mengingat Allah, lalu memuji dan mensucikan-Nya, maka itulah tanda bertambahnya iman. Dan jika kita lalai, menyia-nyiakan, serta melupakan-Nya, maka itulah tanda berkurangnya iman.’
Sumber: ‘Aqidah As-Salaf wa Ash-hab Al-Hadits, hal. 264






