KEHORMATAN ILMU DAN BAHAYA CINTA DUNIA

oleh -31 Dilihat
oleh

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Ayyub As-Saqathi, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Hammad Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari ‘Isa bin Sinan, ia berkata:

Aku mendengar Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata kepada ‘Atha’ Al-Khurasani:

“Dahulu para ulama merasa cukup dengan ilmu yang Allah anugerahkan kepada mereka, sehingga mereka tidak menoleh kepada dunia yang berada di tangan manusia. Sebaliknya, para pencari dunia rela mengorbankan harta mereka demi memperoleh ilmu dari para ulama.

Namun kini keadaannya telah berbalik. Sebagian ulama justru menawarkan ilmu mereka kepada para pencari dunia karena menginginkan apa yang ada di tangan mereka. Akibatnya, para pencari dunia memandang rendah ilmu para ulama setelah melihat sikap mereka yang begitu tamak terhadap dunia.

Oleh karena itu, jangan sekali-kali engkau mendekati para penguasa dan mendatangi pintu-pintu mereka. Sebab di sisi mereka terdapat berbagai fitnah (ujian) yang menyerupai tempat menderumnya unta-unta yang kuat. Tidaklah engkau memperoleh sedikit keuntungan dunia dari mereka, melainkan mereka telah mengambil darimu sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu bagian dari agamamu.”

Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri rahimahullah kemudian berkata:

“Jika pada zaman itu saja (masa para tabi’in) para ulama telah mengkhawatirkan fitnah dunia menimpa mereka, lalu bagaimana menurutmu dengan zaman kita sekarang? Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan atas besarnya kelalaian yang menimpa kita. Fitnah-fitnah telah mengepung kita dari berbagai arah, sementara banyak di antara kita tidak menyadarinya.”

Faedah yang dapat dipetik dari atsar ini adalah bahwa kemuliaan ilmu akan tetap terjaga selama para pembawanya menjaga kehormatan diri, bersikap qana’ah, dan tidak menjadikan ilmu sebagai sarana untuk mengejar kepentingan dunia. Sebaliknya, apabila ilmu dijadikan alat untuk meraih kedudukan, harta, atau kedekatan dengan para penguasa demi kepentingan pribadi, maka wibawa ilmu akan berkurang di mata manusia, meskipun hakikat kemuliaan ilmu itu sendiri tetap tidak berubah.

Sumber: Akhlaqul ‘Ulama, karya Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri rahimahullah, cetakan keenam, Penerbit Ibda’.

No More Posts Available.

No more pages to load.