RIYA’

oleh -1156 Dilihat
oleh

قول الله تعالى: {قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً}

.قوله: “باب ما جاء في الرياء”: أي من النهي والتحذير

قال الحافظ: ” هو مشتق من الرؤية. والمراد به إظهار العبادة لقصد رؤية الناس لها فيحمدون صاحبها. والفرق بينه وبين السمعة: أن الرياء لما يُرى من العمل كالصلاة. والسمعة لما يُسمع كالقراءة والوعظ “…والذكر

 

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa’. Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam peribadatan kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Berkata penulis, “Bab Apa yang Datang tentang Riya”  yaitu larangan dan peringatan (tentang riya).

Al Hafizh berkata, “Ini berasal dari kata ru’yah (melihat) dan yang dimaksud dengan riya adalah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat orang lain sehingga mereka memuji pelakunya. Perbedaan antara riya dan sum’ah adalah riya berkaitan dengan hal-hal yang bisa dilihat seperti salat, adapun sum’ah berkaitan dengan hal-hal yang bisa didengar seperti qiraah (membaca Al-Qur’an), memberi nasihat dan zikir.

Sumber: Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid hlm. 367

 

No More Posts Available.

No more pages to load.