Menetapnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tinggal di Quba selama beberapa hari (menurut sebagian ahli sejarah: selama empat belas hari). Dan pada saat inilah beliau membangun Masjid Quba.

Kemudian beliau berangkat melanjutkan perjalanan (ke Madinah) atas perintah Allah Ta’ala. Dan pada hari Jumat, beliau sampai di wilayah Bani Salim bin ‘Auf, lalu menunaikan salat Jumat di masjid yang berada di dasar lembah Ranuna.

“Setiap jiwa akan merasakan kematian, dan sesungguhnya kalian akan diberikan pahala pada Hari Kiamat kelak. Maka barang siapa yang dikeluarkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh-sungguh dia telah beruntung. Dan tidaklah kehidupan dunia melainkan hanya kesenangan yang menipu.”   (QS. Ali-Imran: 185)

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan kalian sekali-kali mencela angin! Apabila kalian mendapati angin yang kalian tidak sukai, maka ucapkanlah, ‘Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepadamu kebaikan dari angin ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang ia diperintah dengannya. Dan kami berlindung kepadamu dari kejelekan angin ini, kejelekan yang ada didalamnya dan kejelekan yang ia diperintah dengannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Sebaik-baik manusia adalah orang yang memulai mengucapkan salam kepada manusia. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah semulia-mulia makhluk, beliau memulai mengucapkan salam kepada siapa saja yang beliau temui, maka bersemangatlah engkau untuk menjadi orang yang mengucapkan salam sebelum saudaramu walaupun dia lebih muda darimu, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang memulai mengucapkan salam dan manusia yang paling utama di sisi Allah ta’ala adalah orang yang memulai salam kepada manusia.

Apakah engkau suka menjadi orang yang paling utama di sisi Allah? Setiap kita menginginkan hal tersebut … -bukankah seperti itu?-

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita bertemu dengan sikap dan perilaku yang mencerminkan kebodohan, baik berupa ucapan menyakitkan, tindakan kasar, maupun kezaliman. Lalu, bagaimana semestinya seorang yang beriman dan berakhlak mulia merespons hal tersebut?

Allah Ta’ala memberikan petunjuk indah dalam firman-Nya,