Dalam kehidupan yang penuh godaan dan hiruk-pikuk dunia, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu mudah. Pilihan antara mengikuti seruan hati yang sehat dan jujur atau tunduk pada bisikan hawa nafsu. Di sinilah ujian sebenarnya terjadi saat nafsu mulai menguasai jiwa, akal tertutup, dan hati menjadi buta akan kebenaran.

Allah Ta’ala telah menggambarkan kondisi ini secara jelas dalam firman-Nya,

﴿وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطٗ

Banyak manusia yang tenggelam dalam kehidupan yang menipu, kehidupan yang diumpamakan seperti tanaman yang subur kemudian kering dan kemudian hancur, dengan waktu yang singkat. Allah ta’ala berfirman,……

engutusan Hamzah bin ‘Abdul- Muthallib

Kemudian beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) mengutus pamannya, Hamzah Radhiyallahu ‘anhu, bersama tiga puluh orang penunggang kuda dari kaum Muhajirin (tidak ada seorang pun dari kaum Anshar) menuju tepi pantai. Di sana, mereka bertemu dengan Abu Jahal bin Hisyam dan pasukannya yang berjumlah sekitar tiga ratus orang. Tetapi, Majdi bin ‘Amr Al-Juhani menghalangi keduanya karena ia memiliki perjanjian damai dengan kedua belah pihak.

  Pengutusan Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib

Beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) juga mengutus Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib pada bulan Rabiul Akhir, bersama enam puluh atau delapan puluh orang penunggang kuda dari kaum Muhajirin juga, menuju sebuah mata air di Hijaz di bagian bawah Tsaniyyah Al-Murrah. Mereka bertemu dengan pasukan besar dari kaum Quraisy yang dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal, dan ada yang mengatakan bahwa yang memimpin adalah Mikraz bin Hafsh.

Tidak ada yang serupa bagi Allah subhanahu wa ta’ala sesuatu apapun dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Di sini Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitakan kepada kita semua bahwa tidaklah ada yang serupa dengan Allah subhanahu wa ta’ala sesuatu apa pun dari makhluk- makhluk-Nya.

Maka rusaklah pemahaman orang-orang yang menyerupakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk (kaum musyabbihah). Karena telah jelas dan gamblang dari ayat tersebut, bahwa orang yang masih memiliki hati dan akal yang sehat akan mudah dalam menerima dan memahami ayat tersebut.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.