Dalam kitab-kitab para ulama salaf, tauhid selalu menjadi titik awal pembahasan akidah. Dalam kitab Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyah, pertama kali yang disebut oleh penulis adalah tauhid:
(نَقُولُ فِي تَوْحِيدِ اللَّهِ مُعْتَقِدِينَ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ: إِنَّ اللَّهَ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ).
“Kami berkata tentang tauhid kepada Allah, dalam keadaan kami meyakini dengan taufik dari Allah: Sesungguhnya Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya,”
Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, dan merupakan tahap pertama dalam perjalanan menuju Allah, serta tempat pertama yang ditempati oleh seorang salik (penempuh jalan) menuju Allah. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ [الأعراف: 59]
“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) bagi kalian selain-Nya.’” (QS. Al-A‘raf: 59).











