Salafy Majalengka

Dalam kitab-kitab para ulama salaf, tauhid selalu menjadi titik awal pembahasan akidah. Dalam kitab Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyah, pertama kali yang disebut oleh penulis adalah tauhid:

 (نَقُولُ فِي تَوْحِيدِ اللَّهِ مُعْتَقِدِينَ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ: إِنَّ اللَّهَ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ).

“Kami berkata tentang tauhid kepada Allah, dalam keadaan kami meyakini dengan taufik dari Allah: Sesungguhnya Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya,”

Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, dan merupakan tahap pertama dalam perjalanan menuju Allah, serta tempat pertama yang ditempati oleh seorang salik (penempuh jalan) menuju Allah. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ [الأعراف: 59] 

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) bagi kalian selain-Nya.’” (QS. Al-A‘raf: 59).

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya, namun ia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang ini tergesa-gesa.’ Kemudian beliau memanggilnya dan bersabda kepadanya –atau kepada selainnya–, ‘Jika salah seorang di antara kalian shalat, hendaklah ia mulai dengan memuji Rabb-nya Yang Maha Agung dan Maha Mulia, dan menyanjung-Nya, kemudian bershalawat atas Nabi ﷺ, lalu berdoalah setelah itu dengan doa yang ia kehendaki.'” (HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata, “Hadits hasan sahih.”)

Dalam kehidupan yang penuh godaan dan hiruk-pikuk dunia, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu mudah. Pilihan antara mengikuti seruan hati yang sehat dan jujur atau tunduk pada bisikan hawa nafsu. Di sinilah ujian sebenarnya terjadi saat nafsu mulai menguasai jiwa, akal tertutup, dan hati menjadi buta akan kebenaran.

Allah Ta’ala telah menggambarkan kondisi ini secara jelas dalam firman-Nya,

﴿وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطٗ

Banyak manusia yang tenggelam dalam kehidupan yang menipu, kehidupan yang diumpamakan seperti tanaman yang subur kemudian kering dan kemudian hancur, dengan waktu yang singkat. Allah ta’ala berfirman,……

engutusan Hamzah bin ‘Abdul- Muthallib

Kemudian beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) mengutus pamannya, Hamzah Radhiyallahu ‘anhu, bersama tiga puluh orang penunggang kuda dari kaum Muhajirin (tidak ada seorang pun dari kaum Anshar) menuju tepi pantai. Di sana, mereka bertemu dengan Abu Jahal bin Hisyam dan pasukannya yang berjumlah sekitar tiga ratus orang. Tetapi, Majdi bin ‘Amr Al-Juhani menghalangi keduanya karena ia memiliki perjanjian damai dengan kedua belah pihak.

  Pengutusan Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib

Beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) juga mengutus Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib pada bulan Rabiul Akhir, bersama enam puluh atau delapan puluh orang penunggang kuda dari kaum Muhajirin juga, menuju sebuah mata air di Hijaz di bagian bawah Tsaniyyah Al-Murrah. Mereka bertemu dengan pasukan besar dari kaum Quraisy yang dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal, dan ada yang mengatakan bahwa yang memimpin adalah Mikraz bin Hafsh.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.