Salafy Majalengka

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan kalian sekali-kali mencela angin! Apabila kalian mendapati angin yang kalian tidak sukai, maka ucapkanlah, ‘Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepadamu kebaikan dari angin ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang ia diperintah dengannya. Dan kami berlindung kepadamu dari kejelekan angin ini, kejelekan yang ada didalamnya dan kejelekan yang ia diperintah dengannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Sebaik-baik manusia adalah orang yang memulai mengucapkan salam kepada manusia. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah semulia-mulia makhluk, beliau memulai mengucapkan salam kepada siapa saja yang beliau temui, maka bersemangatlah engkau untuk menjadi orang yang mengucapkan salam sebelum saudaramu walaupun dia lebih muda darimu, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang memulai mengucapkan salam dan manusia yang paling utama di sisi Allah ta’ala adalah orang yang memulai salam kepada manusia.

Apakah engkau suka menjadi orang yang paling utama di sisi Allah? Setiap kita menginginkan hal tersebut … -bukankah seperti itu?-

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita bertemu dengan sikap dan perilaku yang mencerminkan kebodohan, baik berupa ucapan menyakitkan, tindakan kasar, maupun kezaliman. Lalu, bagaimana semestinya seorang yang beriman dan berakhlak mulia merespons hal tersebut?

Allah Ta’ala memberikan petunjuk indah dalam firman-Nya,

Al Iman Abu Ja’far Ath Thahawy rahimahullah berkata (menjelaskan Aqidah Ahlussunnah), “Dan kami tidak berpendapat bolehnya memberontak kepada para pemimpin kami dan para penguasa urusan kami, meskipun mereka berbuat zalim. Kami tidak mendoakan keburukan atas mereka, dan tidak pula mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa menaati mereka adalah bagian dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang merupakan kewajiban, selama mereka tidak memerintahkan kepada maksiat. Dan kami mendoakan mereka agar diberi kebaikan dan keselamatan.”

Dari sahabat Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan dirahmati (dikasihi).” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan At-Tirmidzi)

Diantara kandungan makna hadis ini:

Orang yang tidak menyayangi diri sendiri dengan mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, maka dia tidak akan mendapatkan kasih sayang Allah.
Orang yang tidak menyayangi makhluk lain dengan berbagai macam cara yang baik, maka dia tidak akan mendapatkan pahala.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.